RRI Bandung Hidupkan Kembali Sejarah Proklamasi Lewat Drama Radio ‘Menjemput Suara Merdeka’

FAZ • Monday, 11 Aug 2025 - 22:12 WIB

JAKARTA - RRI Bandung membangun "Theatre of Mind" melalui sandiwara radio dengan menyajikan cerita bersejarah tentang peran penting dalam sejarah pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Setelah teks proklamasi diterima dari Jakarta pada 17 Agustus 1945, RRI Bandung turut menyebarluaskan berita kemerdekaan RI ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia.

Dalam drama radio 10 episode ini, pendengar diajak, bagaimana tokoh-tokoh RRI yang dulu bekerja di Radio Hoso Kanri Kyoko Jepang (Sekarang RRI Bandung) berupaya membacakan Proklamasi dan menyebarluaskan, bukan saja di Indonesia tetapi juga luar negeri. 

Bagaimana mereka harus mengungsi hingga ke gunung dan kandang sapi, membawa pemancar dan peralatan tehnik lainnya untuk menghindari Tentara Sekutu.

Berangkat dari peristiwa penting itu, RRI Bandung bermaksud menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat melaui sejarah yang dikemas dalam Dokumentasi Drama (Dokudrama) Radio, ditengah maraknya teknologi dan beragamnya platform saat ini.

Drama ini dihadirkan menjelang Peringatan Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan penuh pengorbanan. Program drama radio, kini memang jarang terdengar di telinga generasi muda, apalagi drama radio yang bertemakan perjuangan. 

RRI Bandung dengan penuh keyakinan, berupaya mengangkat dan membangkitkan kembali semangat perjuangan, sekaligus melawan lupa sejarah tumbuh kembangnya RRI di masa itu.

RRI Bandung memproduksi drama radio berjudul “Menjemput Suara Merdeka” dengan total 10 (sepuluh) episode, disiarkan melalui Programa 1 RRI Bandung FM 97.6 Mhz, sejak 5 Agustus hingga 14 Agustus 2025. 

Drama Radio ini, diisi oleh Tim dari Gelanggang Seni Sastra, Teater, dan Film (GSSTF) Universitas Padjajaran Bandung dan Peri Sandi Huizche seorang sastrawan nasional sekaligus dosen di salah satu pergruan tinggi di Jawa Tengah.

Kepala RRI Bandung, Soleman Yusuf mengungkapkan, yang membuat produksi ini istimewa adalah kehadiran suara asli penyiar eks Radio Hoso Kyoku, Sakti Alamsyah. 

“Suara bersejarah ini merupakan rekaman siaran asli pada 17 Agustus 1945 pukul 19.00 WIB, yang saat itu dipancarkan luaskan oleh 2 (dua) pemancar eks Radio Hoso Kyoku, Radio Malabar dan 4 (empat) pemancar milik Jawatan Pos/Telephone,” ucap Soleman dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (11/8/2025). 

“Siaran tersebut pada saat itu, dapat didengar di Amerika Serikat, Jepang, dan belahan dunia lainnya,” lanjutnya.

Duta Besar Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Dr. M. Fadjroel Rachman mengungkapkan rasa bangga dan haru. Matanya berkaca-kaca saat mendengarkan suara Sakti Alamsyah membacakan ulang teks asli proklamasi di RRI Bandung (Hoso Kyoku).

“Bung Karno membacakannya pada 17 Agustus 1945, di Pegangsaan Timur. Para angkasawan RRI Bandung mempertaruhkan nyawa menyiarkan teks proklamasi pada 80 tahun lalu tersebut. Dokudrama ini sangat layak disimak para pelajar, mahasiswa, kaum muda-mudi di Jawa Barat dan seluruh Indonesia yang menjadi penerus semangat proklamasi 17 Agustus 1945. Merdeka !,” ucap Fadjroel.

Walikota Bandung, M. Farhan mengatakan, mendengarkan drama radio ini, membuat pendengar diajak kembali ke masa itu dalam imajinasi melalui suara, intonasi, dan efek suara.

“Kota Bandung memiliki sejarah panjang dan kaya terkait radio. Beberapa peristiwa penting terkait radio terjadi di Bandung, termasuk siaran pembacaan teks proklamasi kemerdekaan yang disiarkan dari Radio Hoso Kyoku, yang kemudian menjadi RRI,” kata Farhan. 

Marsekal Madya TNI Arif Widianto, S.A.B., M.Tr.(Han)., CHRMP Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI menyatakan, “mendengar kembali suara asli Kang Sakti Alamsyah yang diperdengarkan melalui drama radio RRI Bandung, kita diingatkan bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini lahir dari keberanian, pengorbanan, dan semangat juang luar biasa.”

Sementara itu, Adi Panuntun, CEO Sembilan Matahari menuturkan, delapan puluh tahun lalu, dari kaki Gunung Puntang, stasiun Radio Malabar memancarluaskan siaran dan suara pemuda menggemakan teks proklamasi ke seluruh nusantara dan dunia dibacakan Kang Sakti Alamsyah.

“Dokudrama radio karya RRI Bandung ini menghidupkan kembali keberanian itu, perpaduan aktivisme, nasionalisme, dan kecerdikan menguasai teknologi siaran. Kisah ini menegaskan bahwa kreativitas dan teknologi adalah senjata ampuh untuk menggerakkan perubahan,” ucap Adi.

“Nyala sejarah itu kembali berdenyut. Saya bahkan memimpikan Sembilan Matahari kolaborasi dengan RRI Bandung, menghidupkan kembali puing Radio Malabar menjadi kanvas raksasa, memproyeksikan getaran sejarah dari suara ke cahaya, dari radio ke visual,” tambahnya.

Drama radio ini, juga mendapat dukungan dari Putra Sakti Alamsyah, Perdana Alamsyah yang berterima kasih dengan produksi drama radio mengenang sejarah.

“Rasa syukur dan terima kasih, serta turut mendoakan semoga ikhtiar teman-teman RRI Bandung lancar dan sukses,” ujarnya.

Dokudrama Menjemput Suara Merdeka, pada episode ke-7 akan diputarkan kesaksian salah seorang saksi sejarah Imron Rosadi, yang pada 17 Agustus 1945 juga mendengarkan siaran Proklamasi dari Baghdad Irak.

Drama Radio “Menjemput Suara Merdeka,” juga akan dipentaskan pada acara “KITA INDONESIA”pada 23 Agustus 2025 di Auditorium Lokantara Budaya RRI Bandung, merupakan komitmen RRI sebagai media publik yang menyuarakan semangat kebangsaan dan ke-Indonesiaan.