Kue Putu: Si Manis Hangat yang Menyanyikan Kenangan

MUS • Friday, 8 Aug 2025 - 21:23 WIB

Di antara deretan jajanan kaki lima, hanya sedikit yang bisa menyanyikan kedatangannya. Suara uap yang menyembur dari panci pengukus, menjadi panggilan khas yang mengingatkan kita pada jajanan sederhana yang manis dan hangat: kue putu.

Tapi pernahkah Anda bertanya-tanya, kenapa sih namanya "kue putu"?

Ternyata, asal-usul nama “putu” tidak sesederhana bentuknya yang mungil dan bundar. Ada beberapa versi cerita yang cukup menarik dan membumbui sejarah jajanan legendaris ini.

Pencari Uang Tenaga Uap

Versi ini mungkin yang paling jenaka. Konon, “putu” adalah singkatan dari Pencari Uang Tenaga Uap. Penjual kue putu zaman dulu (dan kini) berkeliling membawa gerobak pengukus bambu yang mengepulkan uap dan menghasilkan suara siulan nyaring. Dari uap itulah mereka mencari nafkah—cukup puitis, bukan?

Jejak Bahasa Sansekerta

Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa “putu” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “kukus”. Sangat cocok, karena cara memasak kue ini memang dikukus langsung di dalam cetakan bambu kecil, lalu dihidangkan panas-panas dengan taburan kelapa parut.

Makna Bundar dalam Jawa dan Bali

Dalam bahasa Jawa dan Bali, “putu” atau “puthon” bisa diartikan sebagai “bulat” atau “lingkaran”—bentuk khas kue ini yang menyerupai silinder kecil. Bisa jadi, nama ini muncul dari bentuk cetakan bambu yang digunakan untuk membentuk kue.

Akar Tamil dan Tepung Beras

Dalam bahasa Tamil, “puttu” berarti tepung beras. Sangat masuk akal, mengingat bahan utama kue putu adalah tepung beras yang diisi dengan gula merah cair dan ditaburi kelapa. Menariknya, di India Selatan, ada juga makanan bernama “puttu” yang dimasak dengan cara dikukus dalam tabung dan berbahan dasar serupa.

Lebih dari Sekadar Camilan

Apa pun asal-usul namanya, satu hal yang pasti: kue putu adalah bagian dari kenangan banyak orang Indonesia. Wangi pandan yang menyeruak dari dalam gerobak, suara khas uapnya, dan sensasi hangat saat menggigit kulit tepung beras yang lembut dan manisnya gula merah yang meleleh di mulut—adalah paket lengkap kebahagiaan kecil yang sederhana.

Di balik setiap gigitan kue putu, tersimpan cerita tentang uap yang menghidupkan, tentang budaya yang terjaga, dan tentang bahasa yang melintasi batas. Mungkin, itulah kenapa kue putu tetap eksis hingga kini: karena ia bukan sekadar jajanan, tapi juga simbol tradisi yang menghangatkan malam dan kenangan.