KSTI 2024, Profesor Novoselov Sebut Graphere dan Rekayasa Material sebagai Fondasi Teknologi

AKM • Friday, 8 Aug 2025 - 14:50 WIB
Peraihe Nobel Fisika 2010, Profesor Konstantin Novoselov

Bandung - Peraihe Nobel Fisika 2010, Profesor Konstantin Novoselov menegaskan pentingnya graphene dan rekayasa material sebagai fondasi teknologi masa depan.

Profesor dari National University of Singapore itu menyoroti sejarah manusia selalu dibentuk oleh material, mulai dari zaman batu hingga era silikon. Namun kini, untuk pertama kalinya, umat manusia tidak lagi dibatasi oleh satu jenis material tertentu.

“Kita bisa mendesain material dari tingkat atom. Batasnya hanyalah imajinasi,” ucapnya  dalam avara KSTI 2025 di Sasana Budaya Ganesha, Bandung.

Novoselov menjelaskan dengan kemajuan teknologi,, manusia kini mampu menciptakan material canggih sesuai kebutuhan spesifik, baik untuk industri maupun solusi tantangan lingkungan.

Dalam paparan ilmiahnya, Novoselov menekankan potensi luar biasa dari graphene, material dua dimensi (2D) yang dikenal karena kekuatan tinggi dan konduktivitas listrik superior.

“Graphene ditemukan melalui metode sederhana, tapi kini digunakan secara luas dalam perangkat elektronik, baterai, dan optoelektronik,” sebutnya.

Menurut Novoselov, setiap ponsel yang kita pakai kemungkinan besar mengandung graphene.

Lebih dari sekadar aplikasi konvensional, Novoselov menyoroti masa depan graphene sebagai bagian dari ‘functional intelligent materials’, yaitu material pintar yang bisa merespons rangsangan, menyimpan memori, dan memproses informasi seperti otak manusia

Sains Bersifat Inkusif

Sementara itu, dalam sesi selanjutnya Peraih Nobel Laureate di bidang Fisika, Prof. Brian Schmidt Prof. Schmidt menggarisbawahi bahwa sains bersifat inklusif. Ia tidak memandang siapa orang tua Anda, di mana Anda dilahirkan, atau seberapa banyak fasilitas yang Anda miliki.

“Itulah keindahan sains. Ia tidak peduli di mana Anda dilahirkan atau siapa orang tua Anda. Ia hanya peduli pada apa yang Anda lakukan,” tegasnya.

Sebagai  kosmolog ternama, Schmidt mengharapkan agar generasi muda di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, memahami bahwa potensi untuk menjadi ilmuwan besar tidak bergantung pada asal-usul, tapi pada semangat belajar, ketekunan, dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

KSTI 2025 didukung penuh oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai penyedia pendanaan kegiatan, yang bersumber dari Dana Abadi Pendidikan Tinggi (DAPT). Dukungan ini merupakan bagian dari komitmen LPDP dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi Indonesia serta mendukung transformasi perguruan tinggi nasional menuju world class university.