BRIN dan CSP Genjot Produktivitas Kakao Lewat Kebun Induk dan Benih Unggul

FAZ • Wednesday, 6 Aug 2025 - 19:22 WIB



Bogor – Upaya mengangkat kembali kejayaan kakao Indonesia terus digencarkan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Cocoa Sustainability Partnership (CSP) menggelar Lokakarya Nasional Pengembangan Kebun Induk Tanaman Kakao dengan tajuk “Benih Kakao untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan dan mempercepat revitalisasi sektor kakao nasional.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Widiastuti, S.E., M.Si., dalam sambutannya menegaskan pentingnya sektor kakao sebagai komoditas strategis yang menopang penghidupan jutaan petani di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa pemerintah saat ini tengah fokus meningkatkan daya saing sejumlah produk perkebunan seperti sawit, tebu, kakao, kelapa, karet, kopi, gambir, hingga hortikultura.

“Penurunan produktivitas kakao nasional dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari usia tanaman yang sudah tua, kurangnya pengetahuan petani, hingga minimnya penggunaan varietas unggul yang tahan terhadap hama, penyakit, dan perubahan iklim,” jelas Widiastuti.

Ia menekankan bahwa keberhasilan peningkatan produktivitas kakao tak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Sinergi lintas sektor, lembaga, serta dukungan dari seluruh pemangku kepentingan dinilai sangat krusial.

Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Dr. Setiari Marwanto, S.P., M.Si., menyatakan bahwa saat ini semua elemen di sektor kakao sedang bergerak bersama memanfaatkan momentum untuk membangkitkan kembali kejayaan kakao Indonesia. “BRIN selalu berkomitmen untuk mendukung pembangunan nasional, termasuk di sektor kakao,” ujarnya.

Sebagai bentuk nyata kolaborasi, BRIN dan CSP telah berhasil mengembangkan dua varietas unggul kakao, yaitu RHS1 dan RHS2, yang telah ditetapkan sebagai varietas unggul baru melalui Keputusan Menteri Pertanian pada tahun 2024. Lokakarya ini pun menjadi wadah untuk memperluas pemahaman tentang kebun induk dan pentingnya penyediaan benih berkualitas bagi petani.

Ketua Dewan Umum Anggota CSP, Ismet Khaeruddin, dalam pembukaan lokakarya mengungkapkan keprihatinannya terhadap menurunnya produksi kakao nasional. “Dalam lima tahun terakhir, produksi kakao kita terus merosot. Sekitar satu dekade lalu, kita masih berada di peringkat ketiga dunia, tapi kini turun ke posisi ketujuh,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti fakta bahwa 99% petani kakao Indonesia adalah petani rakyat yang sangat membutuhkan dukungan teknis, khususnya dalam penyediaan bahan tanam yang berkualitas dan terjangkau. “Ini saatnya kita bersama mencari solusi nyata agar benih unggul kakao bisa diakses oleh petani. Tanpa itu, sulit membayangkan kebangkitan sektor ini,” tegasnya.

Melalui lokakarya ini, diharapkan lahir langkah konkret dan kolaboratif dari semua pihak untuk menjawab tantangan sekaligus membuka jalan menuju keberlanjutan industri kakao Indonesia. (AM)