Indonesia Tunjukkan Kepemimpinan Global di Sektor Hilirisasi Baterai Lewat International Battery Summit 2025

ANP • Wednesday, 6 Aug 2025 - 15:16 WIB

Jakarta — Indonesia menegaskan posisinya sebagai pemain kunci dalam rantai pasok industri baterai global melalui penyelenggaraan International Battery Summit (IBS) 2025. Acara ini berlangsung dengan semarak dan strategis, menghadirkan para pemangku kepentingan industri baterai dunia, termasuk negara-negara penghasil mineral kritis dari Afrika, Asia, hingga Amerika Latin.

Ketua IBS 2025 dan Founder National Battery Research Institute (NBRI), Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, menyampaikan bahwa acara ini menjadi bukti nyata kemajuan Indonesia dalam proses hilirisasi industri mineral. “Banyak yang tidak tahu bahwa Indonesia sudah menjalankan hilirisasi dari nikel menjadi produk turunan seperti MHP, bahkan menuju prekursor dan katoda material. Pabrik-pabrik seperti Huayu dan ATL menunjukkan bahwa proses ini nyata terjadi di Indonesia, bukan di luar negeri,” tegas Prof. Evvy di Jakarta, Rabu (6/8/2025).

Ia juga menambahkan bahwa hilirisasi yang dijalankan Indonesia saat ini melanjutkan kebijakan downstreaming yang menjadi Asta Cita ke-5 Presiden Joko Widodo. Bila sebelumnya nilai tambah nikel hanya berhenti di MHP (mixed hydroxide precipitate), kini Indonesia mendorong proses lebih lanjut hingga mencapai katoda material, yang nilai tambahnya bisa mencapai 55 kali lipat dari bahan mentah.

Prof. Evvy menyoroti pentingnya transfer teknologi dan pengembangan SDM sebagai bagian dari strategi Indonesia. “Kita kaya mineral, tapi masih kekurangan teknologi. Maka lewat summit ini kita belajar langsung dari sumber utama, seperti CATL, Hyundai, dan lainnya. NBRI juga menginisiasi pelatihan hingga mendirikan battery school,” jelasnya. Hingga kini, lebih dari 200 perusahaan telah bergabung dalam pelatihan NBRI, termasuk Toyota, PLN, dan Astra.

Dari sisi kebijakan luar negeri, Tenaga Ahli Menteri Luar Negeri, Dindin Wahyudin, menyampaikan bahwa IBS 2025 merupakan lanjutan dari kerja sama strategis seperti Indonesia Africa Forum dan Critical Raw Minerals Forum. “Pada forum bulan Juni lalu, 15 negara produsen mineral strategis berkumpul, termasuk Zimbabwe, Kenya, Argentina, Brazil, hingga Sri Lanka. Mereka ingin belajar dari keberhasilan Indonesia mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi,” kata Dindin.

Dindin juga menegaskan bahwa Kementerian Luar Negeri terus mendorong terbentuknya ekosistem baterai terintegrasi, bekerja sama dengan negara-negara seperti Australia dan Argentina yang kaya litium. “Indonesia tidak hanya ingin jadi penyuplai nikel, tapi juga produsen baterai hingga kendaraan listrik,” katanya.

Menurut data, hilirisasi dari ore menjadi MHP meningkatkan nilai tambah hingga 10 kali lipat. Bila berlanjut hingga prekursor, nilainya naik 30 kali, katoda 55 kali, dan jika pabrik baterai dibangun di Indonesia, nilainya bisa mencapai 150 kali lipat. Bila ditambah pabrik kendaraan listrik, nilai tambah total bisa menyentuh 350 kali lipat.

Namun Prof. Evvy mengingatkan, tantangan utama Indonesia adalah kurangnya penguasaan teknologi dan investasi nasional. “Vietnam contohnya, tidak punya sumber daya tapi bisa memimpin karena punya teknologi dan investor lokal seperti Vingroup. Kita butuh hal serupa di Indonesia,” tegasnya.

IBS 2025 menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri energi masa depan. Dengan kombinasi sumber daya alam, dukungan diplomasi, kolaborasi industri, dan pembangunan SDM, Indonesia sedang menuju visi menjadi pusat industri baterai global yang mandiri dan berkelanjutan.