Penulis Rayni N Massardi Hadirkan Kumpulan Cerpen Awas Kucing Hilang (Lalat Cintaku)

FAZ • Wednesday, 30 Jul 2025 - 12:59 WIB


Penulis Rayni N. Massardi baru saja menghadirkan kumpulan cerita pendek Awas Kucing Hilang (Lalat Cintaku), dengan ilustrasi Christyan AS, diterbitkan oleh Firaz Media, pada Juni 2025. Pembaca diajak mengikuti 14 cerpen, dari 13 kisah lawas, yang pernah ditulis Rayni pada Awas Kucing Hilang, tahun 2010, ditambah 1 karya terbaru.

Seluruh ceritanya berpusat dan melibatkan tokoh satwa. Mulai dari hewan domestik di sekitar kita, anjing, kucing, sampai yang selalu eksis setiap hari namun sering diabaikan, semacam kecoa, cicak, semut, bahkan cicak.

Para binatang tersebut berinteraksi dengan manusia, dan seolah menggambarkan kehidupan makhluk hidup seutuhnya. Mereka sedikit saja mengalami kebahagiaan, mayoritas merasakan kepedihan yang sangat mendalam. Ada yang mati, ada yang hidup tetapi harus tersingkir, ada juga yang mungkin sudah masuk surga.

Kegalauan penulis terasa kuat di banyak bagian cerpennya, menyindir manusia perkotaan yang kerap mengalami masalah. Latar hujan turun beberapa kali diceritakan sampai kebanjiran, memperparah konflik para tokoh dengan alam, keluarga, dan masyarakat sekitar.

Contohnya cerpen pertama tentang seekor anjing, berjudul Bonzo. Perjalanannya memilukan, sempat bersinggungan dengan bisnis perdagangan ilegal anjing. Padahal pada masa lalu, Bonzo sangatlah lucu dan menggemaskan.

Ditulis kembali dari cerpen Bonzo, "Manusia bisa menjadi tidak respek pada ketidakutuhan. Orang biasa, orang miskin, orang enggak direken, enggak dipandang, hanya dilihat sebelah mata. Mereka memilih circle pertemanan sesama cemerlang. Paling hanya basa basi beriba kasihan atau pencitraan, kalaupun mereka berurusan dengan orang-orang yang tak selevel. Sebatas ucap dari mulut."

Kumpulan cerita pendek Awas Kucing Hilang (Lalat Cintaku) tentu saja menampilkan dua binatang yang turut disebut dalam judul bukunya, kucing dan lalat. Pertama tentang kucing diangkat dalam cerpen berjudul Meong Sinta.

Seperti anabul Bonzo di cerpen pertama, kucing Sinta juga menghadapi kejamnya bisnis perdagangan hewan, namun syukurnya pelaku tergolong masih amatir. Nasib Meong Sinta pun berakhir lebih beruntung daripada Bonzo.

Pesannya terasa sangat kuat, ditulis Rayni dengan begitu lugas, "Hewan-hewan itu tidak punya dosa. Ia atau mereka tidak bisa disalahkan lahir ke dunia, dengan gen mewah khusus. Lahir sudah 'kaya'. Kucing kaya wajib diurus dengan kaya juga. Paham?!"

Hewan lain yang menjadi judul kumpulan cerpen ini adalah lalat, diceritakan dalam Lalat Cintaku. Tokoh lalatnya bernama Ni Rutina, lansia penghuni panti wredha, yang kemungkinan berlokasi di Ciledug atau Tangerang atau Tangsel dan sekitarnya.

Meski bagi manusia sudah mulai bermunculan panti wredha eksklusif yang penghuninya membayar dengan kesadaran serta kemauan sendiri, tetapi penghormatan dan rasa cinta terhadap orang tua tetaplah harus selalu diingatkan.

"Kenapa? Apa rasa cinta terhenti? Sudah tidak ada cinta? Lupa bahwa ada Ibu yang sangat renta menunggu belas kasih, perhatian?" tertulis di salah satu bagian Lalat Cintaku, menjadikannya begitu spesial mengangkat ketulusan cinta.

Ditemani ilustrasi apik karya Christyan AS, kumpulan cerpen Awas Kucing Hilang (Lalat Cintaku) mengajak kita sejenak merenung, beberapa kali terhibur, dan kemungkinan tersindir. Mulai tentang kemanusiaan, nilai-nilai kebaikan, sampai kebijakan publik semacam makan bergizi gratis, yang di sini disebut sebagai sekolah bergizi gratis.