Menteri LH Tegaskan Pentingnya Sinergi Nasional Tangani Karhutla di Sumsel

FAZ • Wednesday, 30 Jul 2025 - 00:27 WIB

JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq mengambil peran sentral dalam mengorkestrasi seluruh kekuatan nasional untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan.

Dalam Apel Kesiapsiagaan dan Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla Tahun 2025 yang digelar di Palembang, Selasa (29/7), Hanif menegaskan bahwa pengendalian karhutla bukan hanya persoalan teknis, melainkan misi kolektif untuk melindungi ekosistem, kesehatan masyarakat, serta reputasi Indonesia secara global.

“Keterpaduan, sinergi, dan aksi kolektif dari semua pemangku kepentingan, termasuk pihak swasta dan masyarakat, merupakan kunci keberhasilan pengendalian karhutla,” ujar Hanif dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (29/7/2025).

Dalam arahannya, Hanif menggarisbawahi bahwa strategi pengendalian karhutla harus bertumpu pada tiga fondasi utama: pencegahan aktif, deteksi dini berbasis teknologi, dan penegakan hukum yang tegas.

Ia mendorong penggunaan sistem Fire Danger Rating System (FDRS) dari BMKG untuk proyeksi risiko kebakaran secara real-time. Sistem ini diharapkan menjadi alat bantu utama dalam menyusun langkah kesiapsiagaan yang lebih akurat dan responsif.

Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti satelit, drone suhu tinggi, dan dashboard pemantauan titik api disebut wajib hadir di setiap lapisan operasional lapangan.

“Harapan kami, FDRS ini bisa menjadi basis kesiapsiagaan kita dalam penanggulangan karhutla di Sumatera Selatan, dan semoga melalui teknologi ini kita bisa lebih cepat mengantisipasi ancaman kebakaran yang makin dinamis,” tegas Hanif.

Hanif juga menyoroti efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah dilakukan tujuh kali di Sumsel. Operasi ini terbukti memperpanjang curah hujan dan menurunkan jumlah hotspot.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa OMC bukanlah solusi tunggal karena biaya operasionalnya yang tinggi. Oleh karena itu, sinergi pencegahan dini tetap menjadi prioritas utama.

Lebih jauh, Hanif mengungkapkan bahwa sebagian besar kejadian karhutla tahun ini justru terjadi di luar kawasan hutan dan lahan gambut. Meski Sumatera Selatan memiliki sekitar 2,1 juta hektare lahan gambut, data menunjukkan bahwa kebakaran lebih banyak terjadi di lahan mineral.

“Lahan gambut yang dijaga dengan muka air stabil hingga 40 cm tidak mudah terbakar. Jadi jika terjadi kebakaran, hampir pasti akibat aktivitas manusia,” ujarnya.

Hal ini menjadi dasar untuk memperkuat penegakan hukum. Berdasarkan Inpres Nomor 3 Tahun 2019, seluruh bentuk pembakaran hutan dan lahan harus ditindak secara hukum.

“Penegakan hukum bukan hanya reaktif, tetapi sinyal tegas bahwa negara hadir melindungi hak hidup rakyat dari bencana ekologis,” tegasnya.

Data dari BPBD Sumatera Selatan menunjukkan bahwa hingga 23 Juli 2025, telah terjadi 1.104 titik panas dan 64 kejadian karhutla dengan total luas terdampak sekitar 43 hektare. 

Secara nasional, sepanjang Januari hingga Mei 2025, tercatat 983 kejadian karhutla dengan luas 5.485 hektare. Namun demikian, seluruh hotspot aktif di Sumsel telah berhasil dipadamkan.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh tim yang telah berhasil memadamkan seluruh hotspot aktif kemarin,” kata Hanif.

Setelah apel, Menteri Hanif meninjau stan peralatan dari berbagai instansi yang menampilkan kesiapan teknologi pemadaman karhutla. Ia memastikan seluruh sistem, mulai dari kendaraan pemadam, drone, hingga alat penyemprot, dalam kondisi siaga penuh.

Beberapa komitmen yang dihasilkan dalam rapat koordinasi tersebut antara lain:Penguatan patroli terpadu di wilayah rawan; Optimalisasi kanal blocking untuk menjaga kelembapan lahan gambut; Peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal; Pengembangan program pencegahan karhutla berbasis desa

Menutup rangkaian kegiatan, Hanif menekankan bahwa keberhasilan Sumatera Selatan dalam mengendalikan karhutla akan menjadi indikator keberhasilan nasional.

"Dengan teknologi, sinergi lintas sektor, dan komitmen hukum yang kuat, kita mampu menekan karhutla secara signifikan dan menjaga langit Sumsel tetap biru,” pungkasnya.