
JAKARTA - Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Hendropriyono menegaskan, bahwa Indonesia memainkan peran strategis dalam diplomasi iklim global dan terus memperkuat komitmennya menuju Net Zero Emission.
“Dengan adanya perjanjian internasional itu kita seperti ‘mengunci’ diri kita dalam konteks positif agar pembangunan yang kita lakukan sesuai dengan komitmen penurunan emisi kita,” kata Diaz dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (27/7/2025).
Hal itu disampaikannya dalam konferensi “Indonesia Net Zero Summit 2025” yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Djakarta XXI Theater, Jakarta, pada Sabtu (26/7). Dalam sesi panel “Can Indonesia Raise the Game? Kiat dan Kebijakan Indonesia untuk Menjadi Pendekar Dunia Net-Zero”, bersama Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno dan pendiri Think Policy Adhyta F. Utami, Diaz menyoroti langkah konkret Indonesia di panggung internasional.
Menurut Diaz, Salah satunya melalui partisipasi aktif dalam forum multilateral dan kepatuhan terhadap Perjanjian Paris.
Lebih lanjut, Diaz menekankan pentingnya peran Indonesia dalam BRICS dan potensi pemanfaatan New Development Bank sebagai sumber pendanaan iklim. Indonesia terus mendorong kontribusi negara-negara maju dan kerja sama riset untuk mempercepat aksi adaptasi iklim.
“Kita dorong agar negara-negara BRICS juga ikut memperbesar pendanaan untuk adaptasi, juga kerja sama di bidang riset,” ujar Diaz.
Konferensi tahunan FPCI ini menjadi ajang strategis untuk mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor, membahas langkah Indonesia dalam menghadapi krisis iklim secara nyata. Sambutan pembuka diberikan oleh Dino Patti Djalal, diikuti pemaparan dari aktor sekaligus aktivis lingkungan Morgan Oey.
Aktivis Lingkungan Morgan Oey, Dino Patti Djalal menyoroti tantangan geopolitik yang mengaburkan fokus global terhadap krisis iklim. Ia mengapresiasi target Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai 100% energi terbarukan dalam 10 tahun.
“Jika kita berhasil mencapai target ini, maka negara-negara true middle powers seperti Brazil dan Indonesia, yang juga memiliki kontribusi emisi besar, akan mencapai tujuan yang sangat penting dan kami harap negara-negara berkembang lainnya akan mengikuti jejak yang sama,” ujar Dino.
Selain itu, Executive Secretary UNFCCC, Simon Stiell, menyoroti pentingnya NDC sebagai blueprint utama dalam mencapai Net Zero 2060 atau lebih cepat. Ia memuji arah kebijakan Indonesia yang dinilai memberikan pesan kuat bagi komunitas global.
“Saya ingin memberikan pengakuan terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo, komitmen Indonesia untuk Net-Zero dan bold call untuk lebih cepat (pencapaian target Net-Zero) mengirimkan pesan yang kuat ke dunia bahwa masa depan akan dibangun secara berbeda,” ucap Simon.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menekankan pentingnya aksi nyata, bukan sekadar janji. Ia menyatakan bahwa transisi energi adalah bagian dari visi Indonesia menuju kedaulatan pangan dan ekonomi yang berkelanjutan.
“Kami berkomitmen penuh di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong transisi ini sebagai bagian dari misi besar mewujudkan pangan yang adil, berdaulat dan berkelanjutan. Transisi energi dan iklim bukan beban, ini adalah jalan menuju kedaulatan ekonomi, pangan, dan masa depan Indonesia,” tutup Menko Pangan, Zulhas.