SKK Migas: Contingent Resource Semester I-2025 Lampaui Target

MUS • Sunday, 27 Jul 2025 - 11:03 WIB

Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terus mendorong keberlanjutan industri hulu migas melalui penambahan contingent resource (sumber daya migas yang secara teknis dapat diproduksi, tetapi belum ekonomis).

Pemerintah menetapkan target contingent resource 2025 sebesar 650 juta barel setara minyak (MMBOE). Hingga Juni 2025, SKK Migas mencatatkan capaian 919 MMBOE atau 151,9% dari target, dengan proyeksi akhir tahun mencapai 1.143 MMBOE atau 189% dari target.

Contingent resource menjadi indikator penting dalam industri hulu migas, karena semakin besar volumenya, semakin besar pula potensi cadangan yang dapat diproduksi di masa depan.

Sejak 2024, Pemerintah menetapkan contingent resource sebagai salah satu Key Performance Indicator (KPI) bersama reserve replacement ratio (RRR). Ketika contingent resource masuk tahap Plan of Development(POD), sumber daya tersebut dianggap komersial dan dapat meningkat menjadi cadangan.

Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, menyatakan, “Upaya untuk melakukan komersialisasi melalui trucking, potensi pembangunan mini LNG maupun mini LPG, pemanfaatan aset hulu migas dan lainnya terus didorong. Kami bersyukur Pemerintah telah memberikan dukungan agar lapangan yang kurang ekonomis dapat menjadi ekonomis dengan insentif-insentif fiskal maupun non fiskal.”

Rikky menambahkan capaian tinggi ini menunjukkan potensi sumber daya migas Indonesia masih menjanjikan. Dari 279 struktur undeveloped discovery, 83 struktur telah ditetapkan berstatus Penetapan Status Eksplorasi (PSE) dengan potensi 216 MMBO minyak dan 3,8 TCF gas, sementara 196 struktur belum PSE memiliki potensi 1.125 MMBO minyak dan 8,3 TCF gas. 

Tantangan utama adalah mengatasi keterbatasan infrastruktur di lapangan marginal atau stranded area untuk memastikan komersialisasi.

Rikky menegaskan, “Kebutuhan energi migas saat ini sangat besar dan akan terus bertambah kedepannya. Jika mengacu pada rencana umum energi nasional (RUEN) bahwa untuk minyak akan akan ada penambahan kebutuhan sekitar 139% dan gas sekitar 298% di tahun 2050, maka seluruh potensi sumber daya migas harus bisa diproduksikan dan ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk dapat merealisasikan target ketahanan energi dalam program ASTA CITA Presiden Prabowo Subianto.”