
JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, pentingnya memulihkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas secara menyeluruh, mulai dari wilayah hulu hingga hilir.
“Hulu sungai harus dijaga agar tetap menjadi penyedia air bersih yang berkelanjutan. Kita ingin mengembalikan fungsi ekologis kawasan ini dengan langkah-langkah nyata dan kolaboratif,” kata Hanif dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (22/7/2025).
Hal ini disampaikannya saat meninjau Arboretum Sumber Brantas di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (16/7). Hanif mengatakan, Sungai Brantas bukan hanya jalur air biasa, melainkan sumber kehidupan yang memiliki nilai sejarah dan budaya penting.
Mengutip naskah kuno Negarakertagama, ia mengatakan bahwa Sungai Brantas pernah menjadi jalur perdagangan utama pada masa kejayaan Majapahit, mengaliri wilayah-wilayah bersejarah seperti Trowulan, Kediri, dan Jombang.
“Banyak upacara adat menggunakan air Sungai Brantas sebagai simbol kesucian dan harapan. Menjaga Brantas juga berarti menjaga warisan sejarah dan budaya Nusantara,” ujar Hanif.
Sebagai langkah awal, Menteri Hanif bersama Wali Kota Batu Nurochman melakukan penanaman pohon di kawasan Arboretum Sumber Brantas. Kegiatan ini menjadi simbol dimulainya rehabilitasi kawasan hulu melalui penghijauan, pelestarian kawasan konservasi, serta edukasi lingkungan kepada masyarakat.
“Kita ingin memastikan bahwa sumber air tetap terjaga dari generasi ke generasi. Kalau hulu sehat, maka seluruh aliran sungai akan membawa manfaat bagi masyarakat,” ujar Hanif.
Tak hanya di hulu, pengawasan kualitas air juga dilakukan secara ketat di sepanjang aliran Sungai Brantas. Kementerian Lingkungan Hidup bersama Perum Jasa Tirta I dan II rutin melakukan pemantauan pada titik-titik rawan pencemaran, baik yang berasal dari limbah industri, rumah sakit, maupun permukiman.
“Pemantauan ini merupakan bagian dari komitmen menjaga kualitas air sungai agar tetap sesuai standar lingkungan. Jika terjadi perubahan mendadak, kami langsung melakukan pengambilan sampel dan analisis laboratorium,” kata Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat.
Sementara itu, Hanif menekankan bahwa pemulihan Sungai Brantas membutuhkan pendekatan kolaboratif. Untuk itu, Pemerintah membuka ruang koordinasi antar pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, BUMN, komunitas lingkungan, hingga masyarakat akar rumput.
“Kita ingin menjadikan Sumber Brantas sebagai model pemulihan sungai yang berbasis kolaborasi, edukasi, dan inovasi. Ini bukan hanya untuk Batu atau Jawa Timur, tapi untuk masa depan lingkungan hidup Indonesia,” ucap Hanif.
Langkah pemulihan DAS Brantas ini merupakan bagian dari strategi nasional Kementerian Lingkungan Hidup dalam pengendalian pencemaran dan pemulihan daya dukung lingkungan, sejalan dengan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Sungai Brantas diposisikan bukan sekadar sebagai objek pemulihan, tapi sebagai contoh nyata bahwa sungai bisa kembali hidup jika dijaga bersama,” pungkas Hanif.