Jakarta — Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi membuka pameran seni rupa NYALA: 200 Tahun Perang Diponegoro di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran yang digelar mulai 22 Juli hingga 15 September 2025 ini menjadi peristiwa budaya penting yang menyatukan sejarah, seni, dan semangat generasi bangsa melalui karya-karya lintas zaman.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menyampaikan apresiasinya kepada para seniman dan tim penyelenggara yang terlibat.
“Tentu kita apresiasi seniman-seniman yang berpartisipasi dalam Pameran NYALA 200 Tahun Perang Diponegoro, juga kerja keras dari para kurator dan seluruh organizing committee yang telah menjadikannya sebagai sebuah storyline, sebuah paket artistik yang penting, dan menjadi percakapan budaya yang sangat kuat,” ujar Menteri Fadli saat membuka pameran, Senin (22/7).
Menurutnya, momentum peringatan 200 tahun ini sangat jarang terjadi dan menjadi momen reflektif yang istimewa. Ia berharap pameran dapat menyampaikan narasi sejarah dari perspektif seni rupa kontemporer, sehingga lebih mudah diterima dan dimaknai oleh publik masa kini, khususnya generasi muda.
Selain karya-karya baru, pameran ini juga menghadirkan lukisan-lukisan langka dari para maestro seni rupa Indonesia.
“Masyarakat bisa melihat langsung karya legendaris seperti Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh, karya Harijadi S., Basuki Abdullah, Daud Yusuf, hingga studi perlawanan Diponegoro oleh S. Sudjojono. Ini kesempatan yang sangat langka karena karya-karya ini sangat jarang bisa diakses publik,” kata Fadli.
Tak hanya itu, sejumlah pelukis kontemporer seperti Jumaldi Alfi, Zulfki, Dionisa, Sunaryo, hingga Suncipto Adi juga turut ambil bagian, menunjukkan kesinambungan semangat perlawanan dan nasionalisme melalui gaya ekspresi yang modern dan beragam.
“Mereka semua sedang dalam masa produktif dan punya reputasi internasional. Ini membuktikan bahwa sejarah tetap hidup dalam kanvas-kanvas masa kini,” tambahnya.
Fadli juga mengungkapkan wacana untuk menjadikan pameran bertema sejarah sebagai bagian dari koleksi tetap nasional.
“Kita sedang mempertimbangkan untuk menetapkan pameran permanen yang bisa menjelajahi perjalanan seni rupa Indonesia dari era Mooi Indie, era Raden Saleh, Persagi, SIM, seniman muda Indonesia, hingga era kontemporer. Ini penting sebagai warisan budaya bangsa.” tutupnya.
Pameran NYALA menjadi titik temu antara sejarah perjuangan dan kreativitas artistik. Melalui pendekatan lintas generasi, pameran ini diharapkan mampu membangkitkan kembali semangat Diponegoro dalam narasi visual yang menggugah dan bermakna.