Split Bill, Pelit atau Matre? Ketika Cinta Tak Lagi Bicara Makna Yang Sama

ANP • Saturday, 19 Jul 2025 - 21:34 WIB

Oleh: Vita Balqis D.

Pengusaha dan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Politik, Universitas Sahid Jakarta.

Suatu malam di Paris, seorang perempuan Indonesia duduk di seberang lelaki yang ia cintai. Mereka tak bertengkar. Hanya diam. Di antara mereka, duduk pula selembar kertas bernama tagihan. Ia membagi menjadi dua. Dengan tenang. Dengan wajar.

Di sanalah cinta mulai tersinggung. Bukan karena tagihan tidak dibayarkan sepenuhnya, tetapi karena tidak dimaknai sama. Karena perhatian yang diharapkan berubah menjadi angka, bukan bahasa hati.

Split bill. Dua kata yang tampak praktis, tetapi sering menyisakan luka di tempat yang tak terlihat. Di dada. Di budaya.

Bagi perempuan Indonesia, cinta tumbuh lewat rasa dirawat. Lewat perhatian kecil. Bahkan hanya secangkir kopi yang ditraktir, tanpa diminta. Ia bukan soal uang. Tapi tentang “rasa cukup” dalam dicintai, bahkan rasa diinginkan. Bukan sebagai mitra yang sejajar, tapi sebagai seseorang yang dijaga.

Tapi bagi lelaki dari Prancis, yang dibesarkan dengan logika kesetaraan, membayar bersama justru tanda penghargaan. Bahwa cinta bukan kuasa. Bahwa memberi bukan berarti memiliki. Maka, membayar semua tagihan, bukanlah bentuk cinta, tapi tanda relasi yang timpang. Tanda ia tidak menghargai kekasihnya. Bagi budayanya, bahasa membayar tagihan kekasihnya, sama saja bermakna kekasihnya tidak cukup bertanggung jawab sebagai manusia dewasa, tak mandiri.

Dua niat baik. Dua cara mencinta. Tapi saling melukai. Karena maknanya tak sama.

Di sinilah cinta dan budaya bersilang. Edward Hall menyebutnya benturan antara budaya high-context dan low-context. Yang satu bicara lewat isyarat, sentuhan, dan gestur diam-diam. Yang lain bicara langsung, jelas, tanpa tedeng aling-aling. Ketika satu pihak menunggu bahasa tubuh, yang lain menunggu kalimat. Dan di antaranya, kesalahpahaman tumbuh pelan-pelan.

Stella Ting-Toomey menyebutnya benturan wajah atau face clash. Ini bukan hanya tentang harga diri, tapi tentang bagaimana seseorang ingin dicintai, ingin dihormati, ingin diakui.

Bagi perempuan itu, split bill terasa seperti ditolak. Bukan secara ekonomi. Tapi secara eksistensi. Bahwa ia merasa tidak cukup layak untuk dibela, tidak diupayakan, tidak “diratukan”. Baginya, cinta harus diperjuangkan bukan disetarakan.

Bagi lelaki Prancis itu, justru di situlah bentuk penghargaan. Bahwa perempuan tak perlu dibeli. Ia harus mandiri. Bahwa cinta harus merdeka. Dan bahwa ketergantungan bukan bagian dari cinta, tapi bayang-bayang patriarki.

Siapa yang salah? Tak ada. Tapi tafsir mereka tak lagi sejalan.

Kita hidup di zaman ketika cinta dikomentari oleh jutaan orang yang tidak mengenal kita. Ketika pengalaman personal berubah menjadi konten, dan budaya dihakimi lewat algoritma. Ketika video pendek tentang split bill mereka viral misalnya, dunia pun bersuara. Tapi suara itu bukan dialog, melainkan gema yang saling menguatkan prasangka. Apa komentar netizen?

“Cewek Asia matre!”

“Cowok bule pelit!”

Padahal sepasang kekasih ini, hanya saling salah paham. Bukan karena hati mereka sempit. Tapi karena jembatan makna tak sempat dibangun. Ketika cinta dan makna jalannya tak selalu sama.

Lev Manovich menyebut media digital sebagai ladang persepsi instan. Ia tak memberi ruang untuk nuansa. Ia menyukai kesimpulan cepat dan sikap keras. Maka cinta pun kehilangan kedalamannya. Perbedaan budaya diubah menjadi bahan olok-olok.

Di titik inilah kita bertanya: mungkinkah cinta lintas budaya tetap utuh, jika makna-makna dasarnya tidak pernah dibicarakan?

Split bill hanyalah contoh kecil, tapi ia membuka luka besar, bahwa kita sering kali tidak mencintai orang yang kita temui, tapi bayangan kita sendiri tentang bagaimana cinta seharusnya dijalani. Ketika bayangan itu tidak sesuai, kita kecewa, bukan pada orang itu, tapi pada makna yang ia bawa.

Maka mencintai dalam lintas budaya bukan soal menyamakan bahasa, tapi menyelami makna. Bukan soal siapa yang benar, tapi siapa yang mau belajar lebih lama, lebih sabar, lebih rendah hati.

Cinta bukan tentang selalu sepakat, tapi tentang siapa yang tetap tinggal, meski tak seluruhnya dipahami. Dan budaya bukan untuk dipaksakan, tapi untuk dijembatani.

Mungkin lelaki itu tidak pelit. Mungkin perempuan itu tidak matre. Mungkin mereka hanya belum saling menerjemahkan dunia batinnya. Dan cinta, seperti puisi, memang tak pernah cukup hanya dibaca literal.

Karena sejatinya, cinta bukan sekadar “siapa membayar apa.” Tapi siapa yang berani bertanya: “Apa makna yang kau bawa hari ini?” Dan siapa yang bersedia mendengarkan, bahkan jika jawabannya tak seperti yang diharapkan.