
JAKARTA - Sosok muda inspiratif muncul di tengah masyarakat Jakarta Utara. Sahdan Arya Maulana, pemuda berusia 19 tahun, mencuri perhatian publik setelah aksinya memperbaiki jalan rusak tanpa bantuan pemerintah viral di media sosial. Mahasiswa semester lima Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) ini menjabat sebagai Ketua RT 07 RW 08 Kelurahan Rawa Badak Selatan, Koja, baru dua bulan, namun sudah menunjukkan gebrakan nyata.
Jalan Kelapa Hijau yang sebelumnya becek dan penuh lubang akibat tumpahan tanah dari truk urukan kini berubah mulus berkat inisiatif Sahdan dan timnya. Dalam waktu singkat, jalan sepanjang 100 meter berhasil dicor dengan dana swadaya warga senilai Rp23 juta.
“Tadinya rencana sebulan lagi, tapi karena jalan sudah rusak parah, langsung kita cor hari itu juga,” ujar Sahdan kepada wartawan.
Sahdan tidak sendirian. Ia bekerja bersama dua rekannya yang juga masih muda—Vemmas Wahyu Rianto (20) sebagai sekretaris dan Riski Saputra (21) sebagai bendahara. Mereka bertiga berhasil menggerakkan semangat gotong royong warga, mengumpulkan dana dari kantong pribadi, sumbangan warga, hingga kas operasional RT.
“Aksi ini bukan proyek pemerintah, melainkan hasil swadaya murni,” tegas Sahdan.
Aksi mereka menuai pujian luas dari warganet. Video dokumentasi kegiatan pengecoran jalan yang diunggah ke TikTok @sahdn.ar pun viral, ditonton ratusan ribu kali dan dibanjiri komentar positif.
“Pemimpin muda kayak gini yang dibutuhin di lingkungan!” tulis salah satu pengguna TikTok.
“Salut banget! Baru 19 tahun tapi udah mikirin warga,” komentar pengguna lainnya.
Banyak pula yang berharap tindakan Sahdan bisa menginspirasi generasi muda lainnya untuk ikut terlibat dalam pembangunan masyarakat, bukan sekadar menunggu perubahan dari pemerintah.
Warga sekitar juga mengaku puas dengan hasil kerja Sahdan dan timnya. Mereka berharap semangat ini bisa menular ke RT dan RW lain di Jakarta, bahkan ke seluruh Indonesia.
Dengan semangat kepemimpinan muda dan gotong royong, Sahdan Arya Maulana kini bukan hanya Ketua RT termuda di wilayahnya, tapi juga simbol harapan baru bagi tata kelola lingkungan berbasis inisiatif warga. (AM)