
Jakarta - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia meluncurkan dua program strategis, yaitu Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dan Belajar Bersama Maestro (BBM), di Graha Utama Gedung A, Kementerian Kebudayaan.
Kedua program ini bertujuan untuk mendekatkan seni dan budaya Indonesia kepada generasi muda melalui pengalaman belajar langsung bersama para seniman lokal dan maestro budaya. GSMS menyasar pelajar di jenjang pendidikan dasar dan menengah, sementara BBM difokuskan pada tingkat pendidikan tinggi.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menjelaskan tujuan program Belajar Bersama Maestro.
" Salah satu program prioritas Kementerian Kebudayaan untuk menghubungkan langsung antara ekosistem kebudayaan dengan ekosistem pendidikan dasar dan menengah di Indonesia," imbuhnhya.
Menbud Fadli juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para maestro seni dan budaya yang terlibat dalam program ini. Menurutnya, para maestro merupakan aset nasional yang kaya akan pengalaman, keahlian, dan kemampuan yang harus diwariskan kepada generasi muda.
“Mereka adalah aset nasional kita. Apa yang mereka miliki perlu kita wariskan kepada generasi muda, terutama para siswa,” tegasnya.
Melalui program ini, lanjut Menbud, para siswa yang terpilih melalui seleksi, diberi kesempatan langka untuk belajar langsung dengan para maestro, tokoh seni budaya, yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Sementara itu, program GSMS menurut Menbud Fadli, merupakan jembatan penting agar seni tidak terpisah dari dunia pendidikan formal.
“Dengan kehadiran seniman ke sekolah, siswa tidak hanya belajar seni sebagai teori, tapi juga menghidupi semangatnya, memahami konteks budayanya, merasakan nilai-nilai spiritual, estetika, sosial, dan praktik seni tersebut langsung di tempat masing-masing,” pungkasnya.
Menbud Fadli menambahkan bahwa melalui program GSMS, para peserta didik juga dapat menyerap secara langsung ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap yang dimiliki para seniman dan lingkungan budaya sekitarnya.
“Tahun ini, program GSMS turut memperkuat prinsip inklusivitas dunia pendidikan bahwa setiap peserta didik berhak mendapatkan pendidikan juga kesenian dan kebudayaan secara menyeluruh,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menyampaikan manfaat program ini.
“Tujuan dari kedua program ini adalah untuk memperkenalkan dan mendekatkan seni budaya Indonesia kepada pelajar secara langsung. Kegiatan ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga membangun karakter serta mendorong kreativitas, artistik, dan inovasi peserta,” ungkapnya.
Ia menambahkan, yang terpenting bukan hanya menjadikan anak-anak sebagai seniman.
" Tapi bagaimana mereka bisa melestarikan, menghayati, dan mengambil nilai-nilai dari seni dan budaya. Bahkan, jika kelak menjadi pejabat, mereka tetap mencintai budaya," imbuhnya.
Lebih lanjut, Ia juga menyebut bahwa antusiasme terhadap program ini terus meningkat setiap tahunnya. Dengan semakin banyaknya proposal dan pendaftar yang masuk, pihaknya berharap cakupan program bisa diperluas di masa mendatang dengan dukungan dari berbagai pihak.
“Animonya luar biasa, untuk Belajar Bersama Maestro, dari 573 pendaftar, hanya 60 siswa yang diterima. Peserta berasal dari berbagai daerah dengan usia antara 18 hingga 22 tahun,” ungkap Restu.
Pada tahun 2025 menandai pelaksanaan GSMS yang ke-8, dengan melibatkan 220 seniman dan 224 sekolah yang terdiri atas 89 SD, 91 SMP, 42 SMA/SMK, dan 2 SLB dari 27 pemerintah daerah, meliputi 5 provinsi, 5 kota, dan 17 kabupaten. Kegiatan ini akan berlangsung mulai 28 Juli hingga 28 November 2025.
Sementara itu, program BBM tahun ini diikuti oleh 60 seniman muda berusia 18–25 tahun, yang terpilih dari 573 pendaftar dari 189 perguruan tinggi di 31 provinsi. Para peserta akan menjalani residensi mulai 20 Juli hingga 18 Agustus 2025 di enam bidang seni yang dibimbing langsung oleh maestro Indonesia, yaitu sastra bersama Gus TF Sakai (Padang Panjang), pedalangan bersama Ki Purbo Asmoro (Solo), teater bersama Iman Soleh (Bandung), tari bersama Didik Nini Thowok (Yogyakarta), musik keroncong bersama Sundari Soekotjo (Jakarta), dan seni lukis bersama Nasirun (Yogyakarta).