Diikuti 8.773 Santri, Kemenag Luncurkan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional ke-1 2025

AKM • Tuesday, 8 Jul 2025 - 21:38 WIB
ementrian Agama meluncurkan secara resmi penyelenggaraan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional ke-1 2025 (Istimewa)

Jakarta-  Kementrian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam (Pendis) meluncurkan secara resmi penyelenggaraan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional ke-1 2025. Kick off acara yang diresmikan oleh Menteri Agama RI, Prof Nasaruddin Umar, digelar di Aula HM Rasjidi, Kantor Kemenag RI, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/2025). 

Kegiatan ini mengusung tajuk 'Dari Pesantren untuk Dunia: Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian dengan Kitab Turats'. MQK 2025 menyuarakan isu-isu global seperti krisis lingkungan dan konflik kemanusiaan.”

Dalam sambutannya, Nasaruddin menegaskan MQK bukan sekadar ajang kompetisi membaca kitab kuning, tetapi panggung besar yang menunjukkan pesantren sebagai kekuatan utama dalam membangun peradaban Islam yang adaptif, inklusif, dan berorientasi global.

"Kitab kuning adalah tradisi hidup (living tradition). Kita tidak sedang mempertahankan masa lalu, tapi memperluas cakrawala pesantren sebagai pelaku utama peradaban regional dan global," ujat  Nasaruddin.

Nasaruddin Umar, menekankan bahwa MQK 2025 menandai dua pencapaian penting: pertama kalinya dilaksanakan di luar Pulau Jawa dan pertama kali digelar secara internasional.

“Selama ini kita gelar MQK secara nasional dengan cakupan terbatas. Sekarang kita perluas ke tingkat internasional. Ini bukan hanya perlombaan, tapi juga upaya mendorong masyarakat, khususnya para santri, untuk mendalami kitab-kitab turats,” ujar Menag.

Nasaruddin menegaskan pentingnya memperluas maqa?id al-syari'ah dengan menambahkan prinsip keenam perlindungan lingkungan.

"Pesantren harus menjadi pelopor ekoteologi Islam. Islam bukan hanya agama spiritual, tetapi juga etika ekologis," ungkapnya.

Kementerian Agama (Kemenag) berharap MQK menjadi platform epistemik dan moral untuk menyuarakan nilai-nilai Islam yang damai, ramah lingkungan, dan progresif.

"Mari kita jadikan MQKN dan MQK sebagai ajang sinergi antarbangsa, perluasan jejaring keilmuan, dan penyebaran Islam rahmatan lil ‘alamin," tutur dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, melaporkan bahwa proses seleksi awal MQKN telah dilakukan secara Computer Based Test (CBT) berbasis digital. Sebanyak 8.773 santri dari 1.218 lembaga mengikuti seleksi yang mengedepankan objektivitas, efisiensi, dan keadilan akses.

"Kami telah membangun sistem seleksi digital yang mencerminkan meritokrasi. Ini juga bagian dari arah transformasi digital Kementerian Agama, agar pesantren menjadi pelaku modernisasi birokrasi pendidikan," terang Amien.

Amien mengungkapkan MQK tahun ini menjadi edisi internasional pertama dalam sejarah penyelenggaraannya. Acara ini melibatkan santri dari berbagai negara sahabat, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Jepang, Myanmar, Jerman, serta perwakilan komunitas Indonesia di luar negeri seperti dari Jakarta Global Network.

MQK 2025 juga dimeriahkan dengan sejumlah kegiatan pendamping. Antara lain Halaqah Ulama Internasional bertema Rekonstruksi Maqashid Syariah dalam Konteks Kontemporer, Expo Kemandirian Pesantren dengan menampilkan produk unggulan dari berbagai pondok pesantren. 

Ada juga Macanang Bershalawat, Perkemahan Pramuka Santri Nusantara, Fajr Inspiration, Night Inspiration serta Launching Pesantren Hijau lewat penanaman satu pohon oleh satu santri.

Puncak MQK Internasional perdana ini akan diselenggarakan secara luring pada 1-7 Oktober 2025 di Pondok Pesantren As’adiyah, Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Sebelumnya, babak penyisihan akan digelar daring pada September mendatang.