Forum Akademik, Dewan Guru Besar BINUS University Berikan Solusi Tantangan Global

AKM • Wednesday, 2 Jul 2025 - 17:15 WIB
Dewan Guru Besar BINUS University (Istimewa)

Jakarta - Dewan Guru Besar BINUS University menyampaikan sejumlah solusi untuk menghadapi tantangan global yang berkembang kini. Mulai dari disrupsi teknologi hingga krisis dalam dunia pendidikan dan kemanusiaan. 

Dewan Guru Besar BINUS University menunjukkan peran strategisnya melalui kontribusi pemikiran lintas disiplin dalam forum akademik yang diselenggarakan bertepatan dengan Dies Natalis ke-44 BINUS University.

Ketua Dewan Guru Besar BINUS University, Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, menekankan pentingnya peran aktif kalangan akademisi dalam membangun bangsa. 

“Dewan Guru Besar adalah kekuatan intelektual BINUS yang hadir tidak hanya untuk membimbing dunia akademik, tapi juga sebagai suara moral dan ilmiah yang menjawab persoalan masyarakat dan bangsa,” ujarnya melalui keterangan tertulis kepada Media, Jakarta, Selasa (1/7/2025).

Forum ini menghadirkan pemikiran lintas disiplin dari para Guru Besar yang mewakili bidang strategis, masing-masing Guru Besar menyampaikan pemikirannya sebagai berikut: 

1. Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, menyoroti perkembangan teknologi informasi yang menjadi fondasi dari banyak tantangan hari ini. Ia menekankan pentingnya kebijakan nasional yang adaptif dan agile, agar mampu mengimbangi kecepatan inovasi teknologi digital yang kian disruptif. 

2. Prof. Yanthi Rumbina Ianova Hutagaol menggarisbawahi pentingnya etika digitalisasi di sektor ekonomi, khususnya UMKM. Menurutnya, transformasi digital yang sukses bukan hanya soal teknologi, tapi juga keberanian untuk menjaga integritas, transparansi, dan nilai-nilai keadilan sosial dalam praktik bisnis sehari-hari. 

3. Prof. Dr. Shidarta menyoroti kondisi dinamika politik dan hukum di Indonesia dan menegaskan bahwa penegakan hukum dan stabilitas politik tidak cukup hanya dengan pendekatan normatif, tetapi juga perlu integritas, pendidikan etika hukum, dan peran serta publik dalam pengawasan.

4. Prof. Dr. Nesti F. Sianipar menyampaikan tentang ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat sebagai tantangan lintas generasi. Ia menyampaikan berbagai inovasi yang dilahirkan untuk mendukung kestabilan

5. Prof. Dr. Ir. Sasmoko menyampaikan pentingnya revolusi pendidikan yang didukung kecerdasan buatan. Ia menekankan bahwa AI bukan pengganti pendidik, melainkan partner strategis untuk menciptakan pengalaman belajar personal, relevan, dan berorientasi pada pembentukan karakter generasi emas 2045. 

6. Prof. Gatot Soepriyanto memberikan refleksi kritis atas banyaknya kegagalan startup di Indonesia, yang menurutnya mencerminkan kebutuhan mendesak akan literasi keuangan, tata kelola korporasi yang kuat, dan pengawasan regulatif yang progresif namun inklusif terhadap inovasi. 

“Kami percaya bahwa dunia saat ini membutuhkan lebih dari sekadar wacana. Dunia membutuhkan solusi. Dan solusi lahir dari pemikiran yang tajam dan kolaboratif,” tpungkas Prof. Harjanto.