
Jakarta — Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan kembali menegaskan komitmennya untuk mencapai target Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030, yakni kondisi di mana sektor kehutanan dan penggunaan lahan menyerap lebih banyak emisi karbon dibanding yang dilepaskan.
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Dr. Ir. Mahfudz, M.P., dalam sambutannya pada penutupan Journalist Workshop on Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 yang dibacakan oleh Kepala Biro Humas dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Krisdianto, di Jakarta, Selasa, (17/6/ 2025).
Dalam sambutannya, Sekjen Mahfudz menekankan bahwa FOLU Net Sink 2030 adalah bagian penting dari kontribusi Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim global.
“FOLU Net Sink 2030 dibangun dengan basis spasial dan penentuan lokus aksi mitigasi, dengan target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar -140 juta ton CO₂e pada tahun 2030,” jelas Mahfudz.
Ia menambahkan bahwa upaya ini mencakup pengurangan deforestasi dan degradasi hutan, perbaikan tutupan kanopi dan fungsi hutan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Ia menggarisbawahi bahwa kerja besar ini tidak dapat dilakukan Kementerian Kehutanan sendirian. Peran media sangat vital dalam menyebarluaskan informasi yang kredibel dan mendorong perubahan perilaku publik.
Senada, Penasehat Senior Tim Kerja FOLU Net Sink Agus Justianto mengatakan keberhasilan agenda FOLU Net Sink 2030 tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah atau dukungan teknis, tetapi sangat ditentukan oleh kemampuan membangun pemahaman publik secara luas.
“Rekan-rekan jurnalis adalah jembatan antara kompleksitas kebijakan dan pemahaman publik,” ujar Agus. “Melalui narasi yang kuat dan akurat, media dapat mengangkat cerita-cerita inspiratif dari lapangan, memotret tantangan yang ada, serta membangkitkan kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam aksi iklim.”
Sejalan dengan itu, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Krisdianto, dalam laporannya menyampaikan bahwa workshop jurnalis ini diikuti oleh 22 jurnalis nasional terpilih dan berlangsung selama dua hari, 16–17 Mei 2025.
Kegiatan ini mencakup sesi diskusi dan kunjungan lapangan ke Persemaian Rumpin di Bogor. Tujuannya adalah memperkuat pemahaman jurnalis mengenai FOLU Net Sink 2030 serta mendorong lahirnya karya jurnalistik yang konstruktif dan berbasis solusi.
Setelah pelaksanaan workshop, Kemenhut melakukan pemantauan pemberitaan selama satu bulan dan mencatat lebih dari 100 artikel yang mengangkat isu FOLU.
Sebagai bentuk apresiasi, Kemenhut memberikan penghargaan kepada dua jurnalis yang dinilai paling aktif dalam memberitakan isu ini yaitu Hendrawan dari Rakyat Merdeka dan Anang Purwanto dari MNC Trijaya.
“Penghargaan ini adalah bentuk terima kasih kami atas dedikasi rekan-rekan media yang telah berperan aktif dalam mengangkat isu-isu kehutanan dan perubahan iklim secara positif dan konsisten,” kata Krisdianto.
Penghargaan berupa sepeda listrik kepada jurnalis disponsori oleh Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan APP Group.
“Apresiasi berupa sepeda Listrik merupakan simbol peduli lingkungan karena menggunakan energi non-fosil. Kami berharap dukungan dari non-state actor ini menjadi pemicu semangat untuk terus menghasilkan karya-karya jurnalistik terbaik tentang Indonesia’s FOLU Net Sink 2030,” kata Deputy Director APP Group Iwan Setiawan.
Iwan mengatakan workshop ini diharapkan menjadi titik awal dari kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, media, dan pelaku usaha sebagai non-state actor dalam upaya menjaga hutan, mengurangi emisi, dan mewujudkan Indonesia yang lebih berkelanjutan.