
Jakarta – Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA) menggelar Professional Recognition Program for Qualified Government Internal Auditor (PRP for QGIA) di Jakarta, Jumat, 13 Juni 2025. Acara ini bertujuan memperkuat kapasitas dan profesionalitas auditor internal pemerintah dalam menghadapi tantangan kompleks di sektor publik.
Ketua Umum YPIA, Setyanto P. Santosa, mengatakan, auditor internal di sektor publik sering menghadapi tekanan besar dalam mengidentifikasi, mengantisipasi, dan menangani risiko organisasi. Ia juga mengutip Richard Chambers, auditor terkemuka, yang menyatakan bahwa auditor sektor publik kerap berhadapan dengan risiko politik yang mengancam karier, sebuah tantangan yang tidak selalu dipahami auditor sektor swasta.
Setyanto menekankan peran strategis auditor internal sebagai penghubung antara organisasi sektor publik dan masyarakat. “Itulah sebabnya auditor internal wajib menerapkan kontrol yang efektif untuk mendukung kinerja organisasi sektor publik. Auditor merupakan kunci utama yang memastikan bahwa kepercayaan publik tidak disalahgunakan,” katanya.
Namun, tantangan besar masih dihadapi auditor internal sektor publik, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Mengacu pada makalah McKinsey 2011, Setyanto memaparkan tiga isu utama: tingginya turnover dan kedatangan pejabat dari luar yang kurang memahami risiko jabatan, kompleksitas metrik kesuksesan organisasi sektor publik yang sulit diukur, serta pola pikir yang meremehkan manajemen risiko.
“Latar belakang tersebut membuat laporan praktik Bank Dunia menyoroti pentingnya kerja sama dengan manajemen agar kinerja auditor internal makin efektif,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa perencanaan audit internal harus selaras dengan tujuan bisnis organisasi sektor publik, dengan fokus pada proses bisnis krusial dan area berisiko tinggi.
“Kontrol internal sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap organisasi sektor publik. Selain harus membantu kinerja auditor internal, pihak manajemen juga wajib mengembangkan program secara efektif,” ujar Setyanto.
Transformasi tata kelola sektor publik saat ini menuntut lebih dari sekadar transparansi, tetapi juga ketangguhan sistem, kecermatan kebijakan, dan pengelolaan risiko yang tepat. Auditor internal pemerintah tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai penjaga integritas kebijakan, mitra pimpinan, dan penggerak akuntabilitas publik.
“Kita semua menyadari bahwa ekspektasi masyarakat terhadap kinerja pemerintahan makin tinggi. Untuk itu, auditor internal pemerintah harus hadir dengan kompetensi yang adaptif, integritas yang tak tergoyahkan, dan wawasan strategis yang relevan dengan konteks zaman, mulai dari tata kelola digital, risiko siber, hingga etika dalam pengambilan keputusan publik,” tegas Setyanto.
PRP for QGIA 2025 dirancang untuk mengakui kapabilitas profesional auditor. “Program ini hadir sebagai bentuk pengakuan atas kapabilitas profesional yang telah Bapak dan Ibu jalani dan kembangkan selama ini. Melalui kurikulum yang disusun berbasis standar internasional terupdate seperti salah satunya Global Internal Audit Standards (GIAS) dan praktik terbaik audit sektor publik, program ini dirancang tidak hanya untuk mengakselerasi sertifikasi, tetapi juga untuk memantapkan positioning Bapak dan Ibu sebagai agent of change dan value driver dalam birokrasi modern,” jelasnya.
Setyanto juga mengimbau auditor internal untuk terus mengikuti perkembangan aktivitas satuan kerja pemerintahan dan turut serta dalam pengawasan mutu pelayanan publik.
“Selamat mengikuti rangkaian kegiatan PRP for QGIA 2025, semoga Bapak & Ibu bisa mendapatkan sertifikat QGIA dalam dua hari ini dan bisa diwisuda bersama-sama peserta reguler pada tanggal 2 Juli 2025 di Hotel Alana Jogyakarta,” tutupnya.
Acara ini diharapkan dapat menghasilkan auditor internal pemerintah yang lebih kompeten, adaptif, dan mampu menjaga kepercayaan publik melalui tata kelola yang transparan dan akuntabel.