FMKI Gelar Pernas XII Istimewa, Revitalisasi Peran Awam Katolik dalam Kerasulan Politik

AKM • Thursday, 12 Jun 2025 - 07:08 WIB
Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) menggelar Pertemuan Nasional (Pernas) XII Istimewa 

Depok  — Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) menggelar Pertemuan Nasional (Pernas) XII Istimewa pada 8–10 Juni 2025 di Wisma Hijau, Depok, Jawa Barat. Acara ini mengangkat tema besar Transformasi dan Revitalisasi FMKI sebagai Rumah Bersama Awam: Melembagakan Wadah Kerasulan Politik untuk Gereja dan Bangsa, forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi awam Katolik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Acara ini dihadiri oleh 195 peserta dari berbagai unsur FMKI tingkat keuskupan, provinsi, hingga kabupaten/kota. Selain itu hadir pula para deklarator dan pendiri FMKI, perwakilan organisasi masyarakat Katolik (WKRI, PK, PMKRI, ISKA), Komisi Kerawam dari 34 keuskupan, dan komunitas awam Katolik dari seluruh Indonesia.

Dalam seminar nasional ini, Akademisi dan mantan Deputi II Kantor Staf Presiden, Dr. Yanuar Nugroho, menegaskan pentingnya peran FMKI dalam menjaga demokrasi dan ruang sipil di tengah situasi politik nasional yang penuh tantangan.

“Kita sedang menghadapi penyempitan ruang sipil secara sistematis—kebebasan berekspresi makin dibatasi, media independen melemah, dan kritik terhadap kekuasaan dianggap ancaman. Dalam situasi ini, FMKI harus hadir bukan hanya sebagai forum diskusi, tapi sebagai gerakan awam yang terorganisasi, punya suara dan pengaruh nyata di ruang publik," ujarnya dalam sesi pemaparan.

Ia juga menyoroti kelemahan dalam kapasitas negara yang makin nampak, seperti buruknya tata kelola, membesarnya struktur birokrasi, serta maraknya pejabat publik yang hanya berorientasi politik elektoral, bukan pelayanan.

"Kita butuh warga negara yang berpikir sebagai warga Gereja sekaligus warga Republik. Awam Katolik jangan hanya menjadi penonton," tambah Yanuar.

Tiga Agenda Utama: Dari Refleksi Kritis hingga Pembentukan Badan Pekerja

Pernas XII Istimewa difokuskan pada tiga agenda utama, yaitu:

1. Seminar Nasional  bertajuk 'Transformasi FMKI sebagai Respon terhadap Dinamika Gereja dan Bangsa Hari Ini' sebagai ruang refleksi dan pertukaran gagasan.
2. Penyusunan Rancangan Pedoman Umum FMKI yang akan menjadi dasar hukum penguatan kelembagaan kerasulan politik awam.
3. Pembentukan Badan Pekerja (BP) FMKI**, sebagai tim transisi untuk menyiapkan reformasi kelembagaan FMKI ke depan.

Menurut Sekretaris Nasional yang juga anggota Komisi 1 DPR RI, Yulius Setiarto, momen ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan langkah konkret menuju penguatan struktur dan arah gerakan FMKI secara nasional.

"Kami ingin FMKI bukan sekadar forum komunikasi, tapi menjadi wadah strategis awam Katolik yang punya daya intervensi sosial-politik. Pedoman Umum dan Badan Pekerja ini adalah fondasi kelembagaan yang baru," ujar Yulius

Badan Pekerja FMKI yang terbentuk dalam pertemuan ini terdiri dari 27 orang, mewakili unsur FMKI Keuskupan/Provinsi, organisasi Katolik, Komisi Kerawam KWI, serta Tim Perumus Pernas. Mereka diberi mandat untuk:

1. Menyelesaikan finalisasi Pedoman Umum FMKI.
2. Menyiapkan dokumen legal administratif untuk pendaftaran FMKI sebagai badan hukum.
3. Menjalankan tugas kelembagaan selama masa transisi.
4. Menyelenggarakan Pernas berikutnya paling lambat pada tahun 2026.

Romo Hans Jeharut, selaku Sekretaris Eksekutif Kerawam KWI yang turut hadir, menyambut baik pembentukan Badan Pekerja ini sebagai wujud dari semangat sinodalitas.

"Gereja memanggil umat awam untuk ambil bagian dalam kerasulan di dunia. FMKI adalah salah satu bentuk nyata kerasulan politik, yang harus dilembagakan secara serius, profesional, dan berdampak," kata Romo Hans

Revitalisasi Rumah Bersama Awam

Dengan selesainya Pernas XII Istimewa, FMKI menegaskan kembali jati dirinya sebagai rumah bersama awam Katolik Indonesia. Forum ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga sarana pembentukan kader, advokasi kebijakan, dan kontribusi konkret bagi kehidupan demokrasi dan Gereja.

Perwakilan FMKI Yogyakarta, Yohanes Dwi Harsanto, menyampaikan harapannya terhadap arah baru organisasi ini.

"Revitalisasi FMKI ini menjadi angin segar. Kami berharap wadah ini mampu merangkul semua golongan dan membina kesadaran politik umat Katolik yang kritis, solutif, dan tetap berlandaskan ajaran sosial Gereja,”pungkasnya.