Perbarindo dan Sekolah Vokasi UGM Satukan Lima Pilar Siapkan SDM Unggul Industri BPR

ANP • Tuesday, 10 Jun 2025 - 05:31 WIB
 Juara I, Gracia Jessica, Adriel Christian, dan Latifasya Prawesti dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta menerima Piala Kemendikti Sains dan Teknologi

Yogyakarta — Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat (Perbarindo) bersama Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM)  menyelenggarakan Forum Diskusi Ilmiah Nasional bertajuk “Menyiapkan Generasi Baru SDM BPR: Sinergi Penta Helix untuk Next Generation BPR”, Rabu (4/6), di Kampus UGM Yogyakarta. Forum ini digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari BPR-BPRS Nasional 2025. Tema Hari BPR-BPRS Nasional 2025, BPR BPRS for Next Generation mencerminkan tekad BPR untuk menjadi ruang terbuka bagi generasi Z dalam menggerakkan transformasi industri keuangan mikro di Indonesia. Dengan karakter Gen Z yang adaptif, digital savvy, dan berorientasi pada dampak sosial, BPR melihat peluang besar untuk melibatkan mereka sebagai pelaku utama dalam inovasi layanan, penguatan literasi keuangan, serta pemberdayaan UMKM. Melalui pendekatan yang inklusif dan kolaboratif, BPR siap menjadi rumah karier dan wadah aktualisasi Gen Z yang ingin berkontribusi langsung pada kemajuan ekonomi rakyat. Forum diskusi ini menghadirkan kolaborasi antara lima unsur utama dalam model pentahelix: akademisi, industri, regulator, komunitas, dan Lembaga Sertifikasi tentunya tanpa meninggalkan peran Media.

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbudristek, Berry Juliandi. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam membangun koneksi antara pendidikan tinggi dan dunia industri, khususnya sektor keuangan mikro. “BPR memerlukan SDM yang siap menghadapi transformasi digital. Sinergi lintas sektor adalah kunci keberhasilannya,” tegasnya.

Sebelumnya, sambutan disampaikan oleh Wakil Dekan Sekolah Vokasi UGM, Dr. Wiryanta, dan Ketua Umum Perbarindo, Tedy Alamsyah. Keduanya menyoroti bahwa regenerasi SDM BPR tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan pendidikan formal, kurikulum berbasis industri, dan pelatihan berbasis kompetensi. Perbarindo, dalam hal ini, mendorong skema sertifikasi dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bagi pengurus maupun staf BPR di seluruh Indonesia.

Forum ini juga menjadi ajang apresiasi karya ilmiah terbaik dari dosen dan mahasiswa. Pemenang kategori dosen antara lain Lokita Rizky M (IPB University), Herman Cahyo (Universitas Jember), Bambang Ahmad Indarto (Universitas Ngudiwaluyo), dan Novy Fitria (ITB Widya Gama). Di kategori mahasiswa, Juara 1 diraih oleh Gracia Jessica, Adriel Christian, dan Latifasya Prawesti dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Juara 2 diraih oleh Jonathan Filestra, Gunda Wibowo, dan Aufa Damar Ash Shiddiq dari Universitas Gadjah Mada. Sementara Juara 3 dimenangkan oleh Ghaziyah Nailatul Faizah, Nur Laily Nasywa Rachmania, dan Rhayhan Maulana Ali Akhbar dari Universitas Negeri Surabaya.

Selain presentasi ilmiah, sejumlah alumni yang kini berkarier di BPR turut memberikan testimoni inspiratif. Mereka antara lain Brich Abnerson (BPR Intidana), Maria Helmiana Jata (BPR Surasari Hutama), Adi Yuma Karyadi (BPR Bank Jogja), Nauli Natalia (BPR Daya Perdana Nusantara), dan Ajeng Ayu Mutia (BPR UGM). Para alumni vokasi tersebut menegaskan bahwa BPR menjadi ruang tumbuh karier yang memberikan pengalaman profesional dan kontribusi sosial nyata.

Diskusi panel yang berlangsung pada siang hari menghadirkan enam pembicara nasional. Mereka adalah RR. Riyadina Tri Wardhani (LPS), Dr. Leo Indra Wardhana (SV UGM), Haryono (Dosen UGM & Komisaris BPR UGM), I Nyoman Yudiarsa (LSP Certif), Dede Suryanto (PRODIKPI), dan H. Dwi Yono (Oengurus Perbarindo & Komisaris BPR Nusamba Group). Para narasumber membahas strategi mencetak SDM unggul melalui kurikulum digital, praktik magang terstruktur, hingga pentingnya sertifikasi profesi sesuai regulasi OJK.

Menurut Haryono, generasi Z sebagai bonus demografi harus menjadi target strategis rekrutmen BPR. “Mereka bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga lingkungan yang inklusif, memberi makna, dan ruang untuk berkembang. BPR bisa menjadi rumah karier itu,” katanya. Di sisi lain, LSP Certif menegaskan bahwa seluruh pengurus. PE, Supervisor dan Staf BPR ke depan perlu memiliki sertifikat profesi sebagai bentuk akuntabilitas dan standarisasi kompetensi.

Forum ditutup dengan penyerahan hadiah bagi para pemenang dan pemberian cinderamata kepada mitra strategis. Melalui kegiatan ini, Perbarindo mengajak seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk turut serta membentuk SDM unggul BPR melalui sinergi pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi. “Kampus dan industri harus terus melangkah bersama demi masa depan BPR yang kokoh dan berkelanjutan,” pungkas Tedy Alamsyah.