
Tangerang – Premanisme di Indonesia sering kali dikaitkan dengan organisasi masyarakat (ormas), tetapi apakah fenomena ini benar-benar warisan dari kelompok tersebut, atau justru produk dari kondisi ekonomi yang semakin sulit? Dalam sebuah podcast yang berlangsung di Tangerang, Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI) 98, Willy Prakarsa, mengupas tuntas akar permasalahan ini dan menawarkan perspektif yang lebih luas terhadap isu yang kerap menjadi perdebatan publik.
*Premanisme: Antara Stigma dan Realitas*
Dalam diskusi yang berlangsung hangat, Willy Prakarsa menyoroti bagaimana istilah premanisme sering kali digunakan secara serampangan untuk menggeneralisasi kelompok tertentu. Ia menegaskan bahwa negara belum memiliki batasan hukum yang jelas mengenai siapa atau apa yang dimaksud dengan premanisme, sehingga berisiko menimbulkan penafsiran subjektif dan penyalahgunaan wewenang.
"Premanisme bukan sekadar soal ormas, tetapi lebih kepada kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Ketika seseorang kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki alternatif, mereka akan mencari cara lain untuk mendapatkan uang, termasuk melalui aktivitas yang dianggap premanisme," ujar Willy dalam podcast tersebut.
*Dampak Ekonomi dan Minimnya Lapangan Kerja*
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus meningkat di berbagai sektor industri telah menciptakan dampak sosial yang mengkhawatirkan. Ribuan pekerja yang kehilangan mata pencaharian terpaksa mencari cara bertahan hidup, dan bagi sebagian orang, jalan yang tersedia adalah premanisme.
Menurut Willy, solusi utama bukanlah pembubaran ormas atau tindakan represif terhadap kelompok tertentu, melainkan penciptaan peluang usaha dan akses ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa tanpa adanya kebijakan yang berfokus pada penciptaan lapangan kerja dan kemudahan rekrutmen tenaga kerja, angka pengangguran akan terus meningkat, mendorong lebih banyak orang ke dalam lingkaran premanisme.
*Rekonsiliasi dan Kebijakan Ekonomi sebagai Solusi*
Dalam podcast tersebut, Willy Prakarsa mengusulkan agar pemerintah lebih mengutamakan rekonsiliasi nasional dan kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat. Ia menyoroti bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuka lapangan kerja dan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan yang layak.
"Jika pemerintah serius ingin menghapus premanisme, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuka lapangan kerja dan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan yang layak," tegasnya.

Podcast ini membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai bagaimana premanisme seharusnya dipahami dalam konteks sosial dan ekonomi. Dengan pendekatan yang lebih komprehensif, diharapkan solusi yang diambil tidak hanya berfokus pada tindakan represif, tetapi juga pada perbaikan kondisi ekonomi yang menjadi akar dari permasalahan ini.
Untuk informasi lebih lanjut, podcast lengkap dapat disimak di sini.
https://youtube.com/live/6myU4UpqPQ0?feature=share