Guntur Soekarno Akan Gelar Gelegar Foto Nusantara 2025, Potret Sejarah dan Kehidupan

ANP • Monday, 2 Jun 2025 - 17:32 WIB

JAKARTA - Untuk mengenang dan merayakan semangat perjuangan serta ide-ide Bung Karno, khususnya dalam hal kemerdekaan, nasionalisme dan pembangunan bangsa, selama rangkaian peringatan “Bulan Bung Karno”, pada Juni 2025 ini, Guntur Soekarno, putra sulung Presiden Pertama RI, Ir Soekarno, yang akrab disapa dengan mas To, akan menggelar pameran foto dengan judul Gelegar Foto Nusantara (GFN) 2025. Pameran foto akan diadakan dalam rangkaian peringatan “Bulan Bung Karno” pada Juni 2025, yang akan merayakan tiga momentum sejarah Indonesia dan Bung Karno. Selain Hari Lahirnya Pancasila (1 Juni 1945), sebagai ideologi bangsa, yang kini menjadi dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia, juga Hari Lahir-nya Bung Karno (6 Juni 1901) dan Hari Meninggal-nya Bung Karno (21 Juni 1970).

Pameran foto mas To akan diselenggarakan pada tanggal 7-13 Juni 2026, pukul 09.00 - 19.00 wib. Tempat pameran foto akan diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 14, Jakarta.

Inilah pameran foto yang kedua yang pernah digelar mas To pada November 1994 di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud, Jakarta. Waktu itu, acara dibuka secara resmi oleh Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi Joop Ave, yang dihadiri oleh ribuan pengunjung. Mereka tak sekadar ingin mengetahui karya putra sulung Bung Karno, tetapi juga kenangan terhadap sosok Bung Karno, sebagai Proklamator bersama Bung Hatta, dan sebagai pahlawan bangsa. Dalam pameran foto kali ini, “Potret Sejarah dan Kehidupan oleh Guntur Soekarno” menjadi tema acara. Acara “Gelar Foto Nusantara 2025” ini juga bertujuan menunjukkan karya keindahan, kedalaman persfektif dan ekspresi mas To. Selain mendokumentasikan sejarah, mulai dari tokoh-tokoh dan peristiwa penting social, politik, ekonomi dan budaya, juga keindahan alam Indonesia, serta kehidupan keluarga dan pribadinya, dari berbagai sudut pandang.

Estetika pribadi Guntur Soekarno

Pengaruh estetika pribadi mas To merepresentasikan gaya pengambilan fotonya yang lebih cenderung menggunakan pencahayaan alami serta komposisi. Dengan menonjolkan obyek utama dengan latar belakang foto, mas To memberikan konteks dan makna. Jepretannya tidak sekadar mengambil gambar tetapi juga memberikan dan mengandung makna mendalam dari potret sebuah kehidupan. Dalam karyanya, tampak mas To sangat memperhatikan detil dalam setiap komposisi pengambilan gambar untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu, baik tentang emosi, perjuangan dan kehidupan.

Dalam koleksi fotonya itu, Mas To juga menangkap momen-momen penting dalam perjalanan bangsa Indonesia, seperti upacara peringatan kemerdekaan, pertemuan dengan tokoh dunia dan berbagai momen sejarah lainnya. Keseharian kehidupan keluarga Soekarno dan interaksinya dengan masyarakat yang diambil mas To juga memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari seorang Presiden dan keluarga. Momen-momen kehidupan keluarganya yang erat dan harmonis dengan latar belakang politik yang saat itu menegangkan ikut diabadikan oleh mas To.

Hal ini juga menggambarkan sisi humanis dari seorang Bung karno sebagai pemimpin besar revolusi pada waktu itu. Sejumlah tokoh penting, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang memiliki peran besar dalam sejarang bangsa Indonesia seperti Bung Hatta dan tokoh-tokoh lainnya, ikut diabadikan oleh mas To. Sisi emosional dan ekspresi yang kuat dalam diri para tokoh yang difoto itu terlihat dan menggambarkan kesedihan, ketegangan dan kebahagiaan. Selain obyek politik, mas To juga merekam interaksi sosial budaya masyarakat Indonesia pada masanya, serta pentingnya kesatuan bangsa menghadapi berbagai tantangan dan dinamika kehidupan. Momen-momen krusial yang mempengaruhi jalannya sejarah Indonesia serta perubahan-perubahan sosial politik pasca kemerdekaan, juga tak luput direkam oleh mas To.

69 Tahun Berkarya

Sekitar 550 foto yang dibuat mas To sejak tahun 1956- 2025, dengan 10 alat foto yang pernah dimilikinya, baik analog maupun digital telah dibuat dalam kurun waktu 69 tahun. Waktu itu, karya foto dibuat mas To sejak duduk di kelas enam Sekolah Rakyat (SR), dan diajak ayahnya mengikuti kunjungan kenegaraan ke Amerika dan Eropa hampir satu bulan lamanya. Lewat kameranya yang berganti-ganti sejak hadiah naik kelas 6 SR pada tahun 1956 yakni kamera Kodak Baby Box —hingga Olympus MD3, yang digunakannya hingga tahun 2025 ini, mas To tak hanya menangkap momen-momen pribadi tetapi juga perjalanan sejarah bangsa. Hasselblad, jenis kamera dengan lensa panjang yang dimilikinya karena hadiah dari Kedutaan Besar Uni Soviet, sebenarnya kamera untuk berburu, tetapi bisa digunakannya untuk memotret model dengan hasil yang cukup bagus.

Mas To sendiri mengaku memiliki 10 jenis kamera dengan berbagai jenis dan merek. Ia pernah kecewa gara-gara adanya kamera digital, yang membuatnya malas untuk memoto dan menggantungkan kameranya. Namun, suatu saat Kwik Kian Gie, tokoh PDI-P dan mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas) mengirimkannya kamera digital dan akhirnya dicoba, hingga sekarang ini mas To keranjingan kamera digital tersebut. Apalagi memotret model yang hasilnya dinilai juga bagus sehingga mas To semakin bersemangat menggunakan kamera kemajuan teknologi digital di bidang fotografi.

Baginya, sekarang, kamera digital atau manual sama saja, jadi pegangannya sehari-hari. Sebanyak 10 kamera yang pernah dimilikinya kebanyakan berasal dari hadiah ayahnya karena nilai rapotnya bagus, lulus ujian atau naik kelas, dan hadiah kedutaan.

Rencananya dibuka Megawati

Hingga sekarang ini, ketika sudah memiliki dua orang cucu: Syandria dan Syahan, mas To terus berkarya. Dan, foto-foto itu akan ditampilkan dalam pameran GFN 2025 yang rencananya akan dibuka oleh Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri dan dihadiri oleh sejumlah menteri dan pejabat penting lainnya.

Selain karya foto mas To, akan ikut dihadirkan pula karya lukisan salah satu cucunya, Syandria yang bertemakan naturalis dan ekpresionis. Selain pameran foto juga akan diselenggarakan workshop selama tiga hari, di antaranya mengenai teori fotografi, pelatihan dan praktik fotografi. Akan hadir fotografer ternama seperti Darwis Triadi, M Firman Ichsan, Andi Kusnadi, dan Arbain Rambey (Kurator Foto).

Pameran ini juga menjadi bagian dari kegiatan penggalangan dana bagi kalangan yang membutuhkan seperti seniman, musisi, artis sebagai wujud kepedulian sosial yang sejalan dengan nilai-nilai perjuangan Bung Karno.