
Jakarta — Menjelang transisi kepemimpinan, Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) menyampaikan pernyataan tegas terkait peran strategis minyak sawit dalam menghadapi tantangan global.
CPOPC menekankan bahwa minyak sawit bukan penyebab deforestasi, melainkan solusi penting bagi ketahanan pangan, energi, dan aksi iklim.
Sekretaris Jenderal CPOPC, Dr. Rizal Affandi Lukman menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak paling efisien di dunia.
“Minyak sawit hanya menggunakan 8,2% dari total lahan tanaman minyak dunia, tetapi menyumbang 41,8% produksi minyak nabati global. Ini menjadikannya sumber yang paling efisien dan layak secara lingkungan,” ujar Dr. Rizal Dalam Keterangan Pers kepada Media, di Sekretariat CPOPC, Jakarta, Rabu (28/5).
Ia juga menyoroti bahwa baik Indonesia maupun Malaysia, dua produsen utama, telah mencatat penurunan kehilangan hutan primer selama lima tahun berturut-turut.
“Hal ini menunjukkan keseriusan negara-negara produsen dalam menerapkan praktik berkelanjutan,” imbuhnya.
CPOPC mengungkapkan sejumlah data penting yang mendukung posisi strategis minyak sawit. Minyak sawit menyumbang lebih dari 50% ekspor minyak dan lemak global, dikonsumsi di lebih dari 160 negara. Pada tahun 2023, produksi minyak sawit global mencapai lebih dari 81 juta ton dengan Indonesia sebagai produsen, eksportir, dan konsumen terbesar.
Setiap hektare kelapa sawit menghasilkan minyak 4,9 kali lebih banyak dibandingkan kedelai dan bunga matahari. Stok minyak nabati global seperti kedelai dan bunga matahari semakin ketat, meningkatkan ketergantungan pada minyak sawit. Harga ekspor minyak sawit tetap kompetitif di pasar global, yakni di kisaran USD 850–950 per ton.
CPOPC juga menyerukan pentingnya kolaborasi lintas kawasan dalam membangun masa depan industri minyak sawit yang adil dan berkelanjutan. Dr. Rizal menegaskan bahwa produsen tidak dapat dibiarkan berjalan sendiri menghadapi tekanan global.
“Kami tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri. Masa depan komoditas ini ada pada kolaborasi lintas benua, harmonisasi standar, dan keberpihakan terhadap petani kecil,” tegasnya.
Kepemimpinan Baru
Dalam kesempatan yang sama, CPOPC mengumumkan kepemimpinan barunya untuk periode 2025–2028. Mdm. Izzana Salleh resmi ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal didampingi oleh Dr. Musdhalifah Machmud sebagai Wakil Sekretaris Jenderal.
Dalam sambutannya, Mdm. Izzana menyampaikan komitmennya untuk memperkuat suara negara produsen dan membangun narasi baru berdasarkan sains dan keadilan.
"“Saat negara produsen terus menjadi sasaran ketidakadilan regulasi, suara kita harus semakin kuat. Kami akan membangun kepercayaan melalui data, sains, dan tanggung jawab bersama,” ujar Izzana.
Dr. Musdhalifah menambahkan bahwa pendekatan keberlanjutan harus menjadi peluang untuk mengangkat kesejahteraan petani kecil, bukan beban sepihak.
“Kami akan memastikan bahwa keberlanjutan bukan hanya tuntutan negara konsumen, tapi juga peluang nyata untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil di negara produsen,” tandas Musdhalifah.