
Jakarta - Pendidikan yang berkualitas dengan menciptakan lulusan terbaik terus diperkuat dengan rencana berdirinya SMA Unggul Garuda.
Pemerimtah saat ini sudah menentukan bakal membangun 20 SMA Unggul Garuda. Pembangunan dilakukan secara bertahap hingga 2029.
“Jadi ada 20 SMA Unggul Garuda baru, yang artinya kita bangun dari nol. Mulai dari infrastruktur, sekolah, guru, akademik, dan sebagainya," ujar Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani dalam acara Ngopi Bareng Kemdikti-Saintek, Jakarta, Selasa (27/5).
Najib menyampaikan, sebanyak empat sekolah akan dibangun pada tahun ini dan persiapan dua pembangunan hampir rampung.
"InsyaAllah akan kita mulai pembangunannya segera, karena prosesnya sudah hampir selesai, bukan perizinan ya, sertifikasi dan sebagainya, itu di Soe, Timur Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung,” ungkap Najib.
Sedangkan satu SMA Unggulan Garuda akan dibangun di Papua Tengah. Sisanya, masih menunggu pengajuan dari daerah.
“Jadi kita sebetulnya sekaligus ini ya, mengajak kalau misalnya ada daerah atau provinsi, atau kabupaten ingin mengajukan, itu sebetulnya bisa untuk kemudian di platform kita, untuk mengajukan dan juga mungkin mengajukan langsung kepada kita,” sebut dia.
Dia mengatajan sekolah Unggul Garuda akan berada di luar Pulau Jawa, terutama di daerah-daerah yang memerlukan pengungkit pendidikan, ekonomi, dan juga kesejahteraan yang ada di masyarakat. Sehingga pemerataan pembangunan menjadi lebih konkret dan terimplementasikan.
Selain itu, terdapat 20 SMA Unggul Garuda Transformasi. Sekolah tersebut berasal dari sekolah yang sudah ada dan akan dijadikan sebagai SMA Unggul Garuda.
Sejauh ini sudah ada 12 kandidat yang akan dijadikan SMA Unggul Garuda Transformasi di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Papua, dan lainnya.
Terkait tenaga pendidik di SMA Unggul Garuda, Kemdikti-Saintek dikatakan akan merekrut para guru melalui CPNS dan non-PNS. Mekanisme penerimaan masih disusun.
“Guru mata pelajaran akan ada sekitar 55 per sekolah. Saya kira udah cukup ya. Ya mungkin nanti akan ada sesi sosialisasi,” ujar Najib.
Di tempat yang sama, Plt. Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kemendikti-Saintek, Samsuri menambahkan bahwa untuk Sekolah Unggul Garuda Transformasi akan mendapatkan evaluasi setiap 3 tahun. Jika tidak sesuai harapan dapat digantikan oleh sekolah lain.
“Ke depan akan dilakukan evaluasi apakah ini terus bisa menjadi Sekolah Unggul Garuda Transformasi atau ada yang lebih cukup transformatif. Evaluasinya 3 tahun ke depannya,” kata Samsuri.
Kasus Plagiasi dan Joki
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Ahmad Najib Burhani juga menyoroti adanya kasus plagiasi dan joki dalam pembuatan jurnal ilmiah.
“ Saya menggarisbawahi hal ini sebagai salah satu bukti bahwa ekosistem saintek di Indonesia tidak hidup,” sebuatnya.
Selain itu, ia juga menilai asosiasi keilmuan di Indonesia saat ini perannya tidak hidup dan juga tidak mati, bahkan cenderung bermuatan politis.
Oleh sebab itu, Najib mengatakan Kemdiktisaintek berupaya menggandeng asosiasi-asosiasi keilmuan di Indonesia, dalam upaya menghidupkan kembali budaya dan ekosistem saintek di Indonesia.
"Ada Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, ada Perhimpunan Insinyur Indonesia, dan lain sebagainya. Kemudian asosiasi keilmuan lain yang perlu untuk difasilitasi, dihidupkan kembali untuk kemudian menjadi pendorong dari ekosistem saintek," ucapnya.
Selain itu, Najib juga memaparkan pihaknya kini tengah berupaya menciptakan budaya dan ekosistem saintek di Indonesia, salah satunya melalui pembukaan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Center di berbagai kampus dan perpustakaan di Indonesia, yang akan dibuka untuk umum.
"Kita ingin membuat orang itu mencari hiburan tidak hanya di mal, tetapi juga di perpustakaan dan di kampus-kampus dan sebagainya," harap Najib.