Persatuan Insinyur Indonesia Beri Penghargaan Bagi Pendiri di HUT ke-73

MUS • Saturday, 24 May 2025 - 07:56 WIB

Jakarta - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) merayakan ulang tahun ke-73 dengan mengusung tema “Organisasi Ligat, Re-Industrialisasi Kuat” dalam sebuah perhelatan sederhana di Sekretariat PII Gedung Rekayasa Indonesia, Jum’at (23/5).

Dihelat secara luring dan daring serta diikuti Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Pengurus Perwakilan Luar Negeri, Majelis Kehormatan Etik (MKE), Majelis Standar Keinsinyuran (MSK), dan unsur pelaksana praktik Keinsinyuran (Badan Kejuruan, Badan Pelaksana, Badan Tetap).

PII tetap membawa semangat memperkuat peran insinyur dalam mendukung proses re-industrialisasi nasional dalam peringatan ulang tahun kali ini.

"Sejak pendiriannya, PII berperan besar dalam mendukung pembangunan di Indonesia awal kemerdekaan, semangat itu terus kita bawa dalam peringatan ulang tahun ke-73 ini, bersama-sama mendukung pemerintah dengan memberikan karya terbaik untuk re-industrialisasi Indonesia," ujar Dr. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA, IPU, selaku Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia.

Insinyur profesional merupakan salah satu aset utama dalam upaya re-industrialisasi. Negara-negara yang berhasil membangun industrinya memiliki jumlah insinyur yang tinggi. Vietnam memiliki sekitar 9.000 insinyur per satu juta penduduk, sementara Korea Selatan mencapai 25.000 insinyur per satu juta penduduk.

Dalam kesempatan perayaan ulang tahun kali ini juga dilakukan rilis theme song PII dan penyerahan penghargaan kepada para pendiri PII, yaitu Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja dan Prof. Dr. Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo. 

Penyerahan penghargaan kepada keluarga para pendiri PII dilakukan langsung oleh Sekretaris Jenderal PII didampingi jajaran pengurus Pusat PII. Dengan usia yang semakin matang, PII bertekad meneruskan visi dan semangat para pendiri untuk terus menjadi motor penggerak kemajuan teknologi dan industri tanah air sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja

Kelahiran Tasikmalaya, alumni Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS). Pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia tahun 1957-1959.

Sumbangan terbesarnya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI, atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut UNCLOS.

Prof. Dr. Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo

Kelahiran Madiun, alumni Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS). Mengawali karier dengan berwiraswasta di Bandung dengan mendirikan Biro Insinyur Roosseno dan Soekarno (Presiden pertama RI) di Jalan Banceuy pada tahun 1933.

Merupakan profesor pribumi pertama di jurusan Teknik Sipil ITB pada tahun 1948 dan dikenal sebagai Bapak Beton Indonesia. Beliau juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.