Menteri LH Sebut Keanekaragaman Hayati Jadi Aset Strategis Bangsa

FAZ • Thursday, 22 May 2025 - 17:18 WIB

JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, menjelaskan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati merupakan agenda strategis nasional yang menyangkut masa depan bangsa.

“Semua spesies dan genetik di dalamnya menyimpan manfaat luar biasa: dari sumber pangan, obat-obatan, energi, hingga penyimpan air dan karbon,” ujar Hanif dalam acara peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional dan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2025 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Kamis (22/5/2025).

Hanif menyebut Indonesia sebagai salah satu negara megadiversitas yang memiliki 22 jenis ekosistem, termasuk hutan tropis, mangrove, karst, sungai, dan terumbu karang. Menurutnya, keanekaragaman hayati tidak hanya menjadi isu konservasi, tetapi juga kunci dalam menghadapi berbagai krisis global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga potensi pandemi di masa depan.

“Nilai ekonominya adalah aset bangsa yang tak ternilai. Ini bisa menjadi penyelamat kita dalam dinamika ekonomi global,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Hanif menyerukan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk memastikan keberlanjutan sumber daya hayati Indonesia. Ia menilai momentum peringatan ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat kebijakan konkret dan langkah nyata di lapangan.

“Kita harus menjadikan hari ini sebagai pengingat dan titik balik dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati,” ucapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penataan ruang dan zonasi ekosistem, baik darat maupun laut, agar terlindungi dari eksploitasi berlebih. Menurut Hanif, dukungan instrumen hukum sangat diperlukan untuk memberikan kepastian perlindungan.

“Instrumen hukum harus segera disiapkan, termasuk dalam penetapan zona lindung, zona penyangga, dan koridor ekologi,” ucapnya.

Kepada generasi muda yang hadir, Hanif menyampaikan harapan agar kepedulian mereka terhadap lingkungan dapat menjadi penggerak perubahan.

“Apa yang dicita-citakan adik-adik hari ini harus menggetarkan jiwa kita. Mampukah kita mewariskan alam yang lestari untuk mereka?” ujarnya.

Di sisi lain, Hanif mengajak pelaku usaha untuk turut berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Sektor swasta harus berkomitmen menjaga kualitas lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada keanekaragaman hayati,” tegasnya.

Hanif juga menyoroti perlunya pengendalian pencemaran dan pemulihan ekosistem yang rusak di tingkat tapak. Ia mencontohkan budaya sasi di Maluku sebagai kearifan lokal yang layak dijaga dan diperkuat melalui regulasi.

“Kearifan lokal seperti ini harus kita kuatkan lewat regulasi yang melindunginya,” kata dia.

Meski dikenal sebagai negara dengan kekayaan hayati luar biasa, Hanif mengakui bahwa Indonesia masih lemah dalam hal riset dan inovasi di bidang tersebut.

“Kita masih jauh dari potensi yang dimiliki. Riset harus berdampak nyata bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian,” katanya.

Menurut data Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Indonesia, Indonesia menjadi habitat bagi 10 persen spesies tumbuhan berbunga dunia, 12 persen mamalia, 16 persen reptil dan amfibi, 17 persen burung, serta lebih dari 25 persen spesies ikan dunia. Padahal, wilayah Indonesia hanya mencakup sekitar 1,3 persen dari total permukaan bumi.

“Setiap spesies punya peran penting dalam rantai kehidupan. Kehilangan satu spesies saja bisa merusak seluruh ekosistem,” pungkas Hanif.