
JAKARTA – Sebanyak 14 remaja dari sembilan kota dan kabupaten di Indonesia resmi dinobatkan sebagai Ashoka Young Changemaker 2025, Kamis (22/5/2025). Mereka terpilih karena telah menciptakan berbagai inisiatif sosial dan lingkungan yang memberikan dampak nyata di masyarakat.
“Ke-14 remaja ini terpilih dari 356 pendaftar dari seluruh Indonesia dan telah melalui rangkaian seleksi di tingkat nasional dan global,” ujar Youth Years Manager Ashoka Indonesia, Ara Kusuma, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (22/5/2025).
Para remaja ini membawa berbagai gagasan, mulai dari peningkatan keterampilan digital untuk tunanetra, pengenalan STEM secara interaktif, pembahasan isu kekerasan seksual di pesantren, hingga pembangunan ketahanan bencana dan penciptaan area bebas rokok.
Salah satu penerima penghargaan adalah Yugo S. (16), pelajar asal Surabaya yang mendirikan Buta Digital Indonesia, sebuah gerakan untuk membekali remaja tunanetra dengan keterampilan digital. Yugo sendiri adalah seorang tunanetra.
“Kami mengajarkan keterampilan seperti mengetik, menggunakan Google Docs, serta kemampuan kemandirian, seperti memesan transportasi daring dan berbelanja online,” ujar Yugo dalam presentasinya di hadapan juri Ashoka Young Changemaker 2025 pada 25 April lalu.
Yugo juga mengajarkan materi peningkatan mobilitas dan pemahaman geografi, termasuk cara berbagi lokasi, yang bermanfaat untuk keamanan dan kemandirian para siswa.
Hingga kini, terdapat 20 siswa tetap yang tergabung dalam Buta Digital, termasuk teman sekolah dan anggota kelompok pengajian ibunya yang juga tunanetra.
Dari Yogyakarta, Nadia M. (20) menghadirkan inovasi dengan mengolah kotoran ternak menjadi energi listrik berbasis biogas. Energi tersebut digunakan untuk kebutuhan rumah tangga warga dan sebagian disalurkan ke Eco-Charging Stations.
“Inisiatif ini saya gagas karena banyak tumpukan kotoran ternak di desa dan akses listrik dari PLN belum merata,” ujar Nadia.
Bersama tim Eco Zoomers, Nadia juga mengembangkan sistem pengolahan limbah makanan dan pertanian menggunakan maggot. Dalam dua tahun terakhir, program ini telah melibatkan lebih dari 700 warga dan membantu menciptakan pakan ternak serta pupuk alami secara mandiri.
Pembaharu termuda tahun ini adalah Hanna A. (12), yang menciptakan gerakan Jadikan Buku Teman Baikmu untuk menumbuhkan kecintaan membaca di kalangan anak-anak. Gerakan ini berawal dari kegelisahan Hanna melihat anak-anak lebih banyak bermain gawai ketimbang membaca buku.
Dengan dukungan keluarga dan teman-temannya, Hanna mendirikan Rumah Literasi Lampu Baca, Klub Baca ABC (Ayo Baca dan Cerita), Koper Baca, serta program literasi untuk sekolah dan panti asuhan.
Direktur Regional Ashoka untuk Asia Tenggara, Nani Zulminarni, menegaskan pentingnya melibatkan anak muda dalam perubahan sosial sejak dini.
“Umumnya, orang muda baru dilibatkan setelah lulus SMA atau kuliah. Di Ashoka, kami percaya bahwa praktik menciptakan perubahan harus dimulai sejak muda,” ujarnya.
Senada dengan itu, Youth Year Manager Ara Kusuma mengatakan bahwa setiap remaja memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan jika diberi ruang dan kesempatan.
“Jika orang muda diajak melihat masalah di sekitarnya dan mengenali potensi dirinya, mereka akan menjadi kekuatan yang mampu menyelesaikan berbagai tantangan sosial dan lingkungan,” kata Ara.
Sebagai informasi, Ashoka Young Changemaker adalah jaringan global remaja usia 12–20 tahun yang telah meluncurkan inisiatif sosial dan memimpin tim di komunitasnya. Mereka diharapkan menjadi bagian dari gerakan Everyone a Changemaker yang mendorong generasi muda untuk berperan aktif dalam menciptakan perubahan. Berikut daftar lengkap pembaharu muda Ashoka Young Changemaker 2025:
1.Danendra F. (18/Panoramind-modul STEAM interaktif untuk siswa sekolah dasar/Boyolali, Jawa Tengah)
2. Febriand V. (20/Black Screen-platform produksi dan distribusi film untuk penyandang disabilitas/Surabaya, Jawa Timur)
3. Grestine D. (19/PARTY-platform yang memberdayakan remaja untuk mengadvokasi perlawanan terhadap rokok/Semarang, Jawa Tengah)
4. Hanna A. (12/Jadikan Buku Teman Baikmu-komunitas membaca di kalangan anak- anak/Jakarta)
5. Kanaya M. (19/Edukasi Berjalan-wadah pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas di masyarakat kurang mampu/Muara Bungo, Jambi)
6. Maylyn F. (16/Educe-klub debat, simulasi konferensi diplomatik, dan kelas pemrograman untuk remaja di seluruh negara/Bandung, Jawa Barat)
7. Michelle K. (17/Book Buddies-komunitas literasi yang menyenangkan dan mudah diakses oleh kaum muda./Bekasi, Jawa Barat)
8. Nadia M. (19/Daur Karbon-inovasi sumber energi yang terjangkau bagi masyarakat lokal melalui ekonomi sirkular/Yogyakarta)
9. Putri L. (18/Walice-gerakan mencegah, mengurangi, dan mengatasi kekerasan seksual di pesantren/Bandung, Jawa Barat)
10. Rana A. (16/Jabar Tapa-gerakan pelatihan bencana gempa bumi bagi anak dan remaja/Bandung, Jawa Barat)
11. Reva F. (14/Intensifikasi Bunga Telang-membangun kebun kota dengan bunga telang untuk melawan polusi./Surabaya)
12. Salwa K. (14/Readocil & Grandung-akses literasi dan ruang aman anti perundungan bagi anak/Jakarta)
13. Tsani R. (17/Green Circle Sustainability-gerakan sistem pengelolaan sampah di pesantren/Yogyakarta)
14. Yugo S. (16/Buta Digital Indonesia-pelatihan literasi digital untuk individu dengan gangguan penglihatan./Surabaya)