
Oleh: Zahwah Alya Annisa
(Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta)
SEKOLAH paket bukan sekadar tempat belajar bagi mereka yang terhambat oleh keadaan. Ini adalah jembatan harapan, tempat di mana mimpi pendidikan dirajut kembali, meski hidup penuh tantangan. Dari jenjang SD hingga SMA, sekolah paket menawarkan peluang bagi mereka yang mau berjuang melawan keterbatasan ekonomi untuk meraih ijazah dan masa depan yang lebih cerah.
Di antara ribuan kisah inspiratif, nama Wulan Nur Hayati bersinar terang. Alumni Paket B dan C dari PKBM Negeri 34 Cipayung, Jakarta Timur, Wulan adalah bukti nyata bahwa kegigihan bisa mengalahkan segala rintangan. Perjalanan pendidikannya dimulai dari SMP melalui Paket B, hingga akhirnya ia berhasil menamatkan SMA lewat Paket C. Namun di balik ijazah yang kini digenggamnya, ada cerita perjuangan yang tak biasa.
Wulan merantau ke Jakarta, meninggalkan kampung halamannya demi mengejar pendidikan. Ia tinggal bersama budenya di tengah kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas. Namun, tantangan tak berhenti di situ. Harapan Wulan mendapatkan bantuan Kartu Jakarta Pintar (KJP) pupus karena KTP orangtuanya bukan dari DKI Jakarta. Pahit memang, tapi Wulan tak menyerah.
Mulanya PKBM Negeri 34 Cipayung menghadapi keterbatasan dalam menyediakan akses belajar. Dengan segala keterbatasan fasilitas dan sumber daya, sekolah ini tampak seperti sebuah tantangan yang berat untuk Wulan. Namun, di balik itu semua ada semangat yang tak pernah padam untuk terus berkembang.
Melalui upaya keras dari para pengajar dan dukungan pemerintah, sekolah ini berhasil memperluas jangkauan pendidikan serta mengatasi berbagai kendala yang ada seperti fasilitas komputer, kenyamanan ruang ibadah, buku-buku, dan kerja sama dengan sekolah lain.
Perlahan, sekolah yang tadinya terkesan terbatas kini menjadi sebuah tempat yang kaya akan nilai-nilai perjuangan, memupuk semangat pada setiap siswa, termasuk Wulan. Tak disangka, dalam sebuah kesempatan yang berawal dari kolaborasi pelatihan pertama antara PKBM Negeri 34 Cipayung dengan SMK Negeri 51 Jakarta untuk menyelenggarakan Uji Sertifikasi Kompetensi Bisnis Dari dan Pemasaran (LSP), Wulan menjadi salah satu siswi PKBM yang berhasil lolos ujian.
Perasaan haru dan bangga memperkuat tekadnya untuk terus melangkah maju, mengingat ia melakukan pencapaian tersebut selama 4 bulan. Sembari menanti kabar pengumuman hari kelulusan, Wulan menghabiskan waktu 2 minggu dengan bekerja di toko baju untuk menambah tabungannya dalam mempersiapkan diri selama perjalanan pulang ke Jogja, tempat yang telah ia rencanakan secara matang dengan segala pertimbangan untuk kembali ke kampung halamannya.
Hari pengumuman itu akhirnya tiba
Wulan berpamitan kepada keluarga Budenya karena telah membantu selama 11 tahun. Dalam waktu dua hari untuk memulai langkah baru, ia bekerja bersama orang tuanya sebagai sales marketing alat masak. Enam bulan ia jalani dengan penuh lelah melalui hari-harinya yang berat.
Namun takdir tidak sedang berpihak kepadanya. Pesanan customer mulai menurun sehingga perusahaan terpaksa mengurangi karyawan, dan Wulanlah yang menjadi korban PHK. Sangat berat hati ia harus meninggalkan pekerjaan itu. Waktu seakan berhenti, berbulan-bulan ia menunggu dan berharap ada lowongan perkerjaan. Hingga akhirnya melalui bantuan seorang teman ibunya, sebuah peluang terbuka di pabrik rokok.
Tak perlu pikir panjang, ia segera melangkah maju membawa harapan baru. Namun rintangan seakan tak henti menguji kesabaran Wulan. Jembatan yang ia tempuh berulang kali mengalami kerusakan, memaksanya untuk terus menghadapi musibah dengan hati sekuat besi.
Baru satu bulan bekerja di pabrik rokok, Wulan terkena PHK akibat kesalahan kecil namun fatal, sebuah kesalahan yang sebenarnya tak pernah ia perbuat. Ketika sakit, Wulan menitipkan surat kepada rekan kerjanya untuk disampaikan kepada mandor atau pembimbing training di pabrik. Entah mengapa, surat izin Wulan tidak pernah sampai ke tangan yang seharusnya.
Kekecewaan Wulan bertambah. “Kena PHK, tapi gajiku selama satu minggu belum dibayar. Alhamdulillahnya aku kerja di toko fotokopi dan bisa bertahan sampai saat ini,” ucap Wulan.
Kesabaran ada pada diri kita, jangan pernah menyerah untuk sesuatu yang sedang diperjuangkan. Meski ujian dan musibah datang silih berganti, sebaiknya selalu berikhtiar, berdoa dan memohon ridho kepada sang Maha Kuasa agar setiap langkah yang dilalui senantiasa diberi berkah dan menjadi bagian dari kebaikan yang telah ditetapkan-Nya.