
Jakarta — Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan, Dr. Ir. Mahfudz, M.P, menegaskan pentingnya peran media dalam mengawal pelaksanaan kebijakan kehutanan dan pengendalian perubahan iklim di Indonesia.
Hal tersebut disampaikannya dalam keynote speech pada acara Journalist Workshop on Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 yang digelar di Jakarta, Jumat (16/5).
Dalam sambutannya, Dr. Mahfudz mengapresiasi kontribusi aktif insan pers dalam mendukung kampanye pelestarian lingkungan dan perubahan iklim, termasuk melalui artikel edukatif dan aksi langsung seperti penanaman pohon dan promosi gaya hidup hijau. Ia mengutip Presiden AS ketiga, Thomas Jefferson, bahwa "pers adalah instrumen paling baik dalam pencerahan dan meningkatkan kualitas manusia."
Mahfudz menjelaskan bahwa Indonesia telah menetapkan target ambisius melalui strategi FOLU Net Sink 2030, yaitu kondisi di mana sektor kehutanan dan penggunaan lahan menyerap karbon lebih banyak dibandingkan yang dilepaskan. Strategi ini merupakan bagian dari upaya mencapai komitmen Indonesia dalam Paris Agreement dan menuju Net Zero Emission pada 2060.
“FOLU Net Sink 2030 menjadi ujung tombak pengendalian emisi GRK di Indonesia karena sektor kehutanan diproyeksikan berkontribusi hampir 60% dari total target penurunan emisi,” ujarnya.
Beberapa langkah strategis telah dirancang, seperti pengurangan deforestasi, restorasi gambut, rehabilitasi hutan, peningkatan produktivitas lahan, serta pencegahan konversi lahan pertanian. Semua program tersebut kini memiliki indikator yang seragam: ton CO2e.
Ia mengatakan, keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada pemerintah, namun juga dukungan dari berbagai pihak, termasuk media massa. “Pers tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi penggerak perubahan sosial. Berita yang edukatif dan inspiratif bisa meningkatkan kesadaran publik terhadap perubahan iklim,” jelasnya.
Menurutnya, kolaborasi erat antara pemerintah dan media menjadi kunci keberhasilan menuju Indonesia FOLU Net Sink 2030 dan Net Zero Emission 2060. Workshop ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sinergi menuju pembangunan masyarakat yang sadar iklim dan menjaga kelestarian hutan.
“Demi terwujudnya Indonesia Maju, Hutan Lestari, dan Masyarakat Sejahtera,” tutup Mahfudz.