
Genre: Horror Slasher, Thriller
Sutradara: Zach Lipovsky dan Adam B. Stein
Pemain: Kaitlyn Santa Juana, Teo Briones, Richard Harmon, Owen Patrick Joyner
Distribusi: Warner Bros. Pictures
Durasi: 110 Menit
Tayang 14 Mei 2025 di Seluruh XXI Indonesia
Final Destination: Bloodlines menjadi penutup yang sempurna untuk waralaba horror slasher traumatis ini. Penggemarnya akan terpuaskan dengan semua teka-teki yang menjadikan ‘kematian’ sebagai penjahat utama yang membawa terror mengerikan bagi seluruh tokoh dalam film.
Final Destination: Bloodlines membawa kita kembali ke dunia di mana kematian tidak pernah acak. Bedanya, kali ini ia menargetkan darah yang sama. Warisan yang ditinggalkan bukan berupa harta, tapi giliran untuk mati dengan cara yang mencolok dan brutal.
Film ini bukan hanya nostalgia, tapi juga penyegaran penuh teror. Menggabungkan kengerian klasik Final Destination yang telah berjalan lebih dari dua dekade, Bloodlines membawa sentuhan baru yang lebih gelap dan personal, namun tetap brutal penuh darah.
Film terakhir dari serial Final Destination ini mengikuti kisah Stefanie (Kaitlyn Santa Juana), seorang mahasiswi yang dihantui mimpi buruk berulang. Setelah neneknya, Iris (Brec Bassinger) meninggal dalam kecelakaan aneh, Stefanie menyadari bahwa keluarganya terjebak dalam siklus kematian yang diwariskan.

Bersama adiknya, Charlie (Teo Briones), mereka berusaha memutus rantai takdir tersebut sebelum semuanya terlambat. Bloodlines bukan sekadar parade kematian brutal seperti pendahulunya. Film ini menyuntikkan sentuhan personal yang membuat setiap detik terasa lebih menakutkan dan mencekam.
Ini bukan tentang siapa yang mati, tapi kenapa mereka harus mati.
Meski ceritanya digerakkan oleh kutukan maut, Final Destination: Bloodlines justru bersinar lewat gaya visualnya. Sinematiknya memanjakan mata. Kamera mengalir mengikuti teror, mempermainkan sudut pandang, dan menyajikan adegan-adegan maut yang tak hanya brutal, tapi juga penuh gaya.
Setiap kematian terasa seperti pertunjukan gila: kejam, kreatif, memunculkan jeritan sekaligus tawa takjub karena tak percaya.
Bukan karena penonton punya sifat kejam. Tapi karena film ini memang jenius dalam mencampur absurditas dengan horor penuh darah.

Di satu sisi, penonton dibuat ngeri melihat bagaimana karakter-karakter dalam film dipatahkan dengan kematian sadis. Di sisi lain, penonton terpaksa tertawa, karena semuanya terasa terlalu over-the-top untuk dianggap serius.
Dan itulah kekuatan Bloodlines, Sutradara memberikan sisi segar berupa humor di tengah kekalutan dan ketakutan akan datangnya kematian. Film ini seperti tahu kapan harus membuat penonton merasa mual, dan kapan harus membuat penonton ngakak tak percaya.
Selipan humor yang pas, kengerian yang tak berujung menjadikan Final Destination: Bloodlines sebagai tontonan seru yang sangat menghibur.
Ditambah, pesan tersembunyi yang terasa menohok ketika plot demi plot dimainkan dengan pelan namun pasti, menuju twist yang cerdas dan menimbulkan tepuk tangan heboh di akhir film.
Pendengar Trijaya yang memang sudah menantikan akhir dari perjalanan ‘kematian’ saat beraksi mengambil nyawa orang-orang incarannya sudah bisa menyaksikan Final Destination: Bloodlines di seluruh XXI Tanah air mulai Tanggal 14 Mei 2025. (AYN)