
PEKANBARU – Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq memberikan apresiasi tinggi kepada PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) Regional 3 atas keberhasilannya dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) setara 33.700 ton CO2 equivalent (CO2e), sebagai bagian dari upaya penanganan krisis iklim global yang dihadapi sektor kelapa sawit.
Dalam kunjungannya ke Lubuk Dalam, Menteri Hanif menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan bukti konkret kontribusi sektor pertanian, khususnya kelapa sawit, dalam menekan emisi GRK.
“Sektor agriculture awalnya dipandang pesimis dalam kontribusinya, tapi PTPN IV berhasil menunjukkan bahwa dengan penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), penurunan emisi yang signifikan sangat mungkin dilakukan,” ujar Menteri Hanif di Lubuk Dalam, Sabtu (10/05).
PTPN IV dinilai berhasil mengimplementasikan energi terbarukan dan langkah-langkah keberlanjutan lain yang telah tersertifikasi oleh lembaga independen. Sertifikasi ini juga menandai pertama kalinya pengurangan emisi sebesar itu tercatat dalam sistem Penghitungan Emisi Indonesia (SPI) di sektor perkebunan kelapa sawit.
Lebih lanjut, Menteri Hanif menyebutkan bahwa keberhasilan ini menjadi sangat penting di tengah tekanan internasional terhadap industri sawit Indonesia.
"Di saat banyak negara berusaha mendiskreditkan produk kita, PTPN IV justru berhasil membuktikan bahwa pengusaha sawit Indonesia mampu menjadi bagian dari solusi iklim,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah telah membuka dua skema perdagangan karbon—domestik dan internasional. Pasar domestik resmi dibuka oleh Presiden Jokowi pada September 2023, sementara pasar internasional diluncurkan pada Januari 2025. Indonesia saat ini tengah memperkuat kerja sama dengan skema kredit karbon internasional seperti Gold Standard, Vera, dan Plan Vivo.
“Baru saja kita menyelesaikan mutual recognition agreement dengan Gold Standard. Ini membuka peluang besar bagi PTPN IV dan pelaku industri lainnya untuk listing ganda di Bursa Karbon Indonesia dan pasar internasional,” jelasnya.
Menteri Hanif pun mengajak seluruh anggota GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) untuk menjadikan pencapaian PTPN IV sebagai model nasional dalam perdagangan karbon dan penguatan prinsip ESG.
Menteri Hanif berharap Lubuk Dalam dapat menjadi lokasi percontohan nasional dan menjadi destinasi pembelajaran bagi pelaku industri lainnya.
“Ini bukan sekadar prestasi, tapi tonggak penting dalam transformasi hijau sektor kelapa sawit Indonesia,” tutupnya.