636 Hektare Terbakar, Menteri LH Soroti Karhutla Riau Tertinggi di Indonesia

FAZ • Saturday, 10 May 2025 - 20:17 WIB

PEKANBARU - Provinsi Riau kembali menjadi sorotan setelah tercatat sebagai wilayah dengan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terluas nomor satu di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) per April 2025, luas lahan terbakar di Riau mencapai 636,06 hektare.

Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq pun turun langsung ke Pekanbaru untuk memimpin Konsolidasi Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Pengendalian Karhutla di Riau dan Sumatera Barat yang digelar pada Sabtu (10/5/2025). Dalam agenda ini, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mencegah serta mengendalikan Karhutla.

Menteri Hanif juga menambahkan, bahwa kebakaran lahan gambut di Riau menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia, meskipun upaya pengendalian yang dilakukan turut berkontribusi pada penurunan emisi secara nasional.

Dengan luas wilayah mencapai 8 juta hektare, dan sekitar 4 juta hektare di antaranya merupakan perkebunan sawit, Riau menjadi kawasan krusial dalam upaya pencegahan Karhutla. Menteri Hanif menyoroti pentingnya keterlibatan sektor swasta, khususnya perusahaan yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), dalam upaya pencegahan dini dan penanggulangan bencana.

"Kejadian Karhutla tidaklah merata. Karena itu, konsolidasi aktif dan masif perlu dibangun dalam satu komando. Saya harapkan Bapak Gubernur Riau dapat terus mengkoordinasikan langkah-langkah mitigasi bersama seluruh pengusaha sawit di wilayah ini," tegasnya.

Tak hanya pendekatan pencegahan, Menteri Hanif juga menegaskan bahwa pemerintah siap mengambil langkah represif melalui penegakan hukum terhadap pelanggaran yang menyebabkan Karhutla. 

“Sesuai amanat undang-undang, kami akan menindak tegas pihak-pihak yang terbukti lalai atau sengaja membakar lahan,” ucapnya.

Sementara itu, Gubernur Riau, Abdul Wahid mengakui bahwa Karhutla merupakan persoalan tahunan di provinsinya, dengan kejadian terburuk terjadi pada tahun 2016 dan 2019. Pihaknya telah menetapkan status siaga Karhutla sejak April lalu serta terus menggencarkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

"Yang paling penting adalah bagaimana kita mengedukasi masyarakat agar dapat mencegah Karhutla. Mencegah jauh lebih baik daripada menanggulangi," kata Abdul Wahid. 

Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan inovasi mitigasi seperti penyemaian garam untuk menurunkan hujan buatan di wilayah rawan.

Dalam semangat menjaga warisan alam Riau, Abdul menegaskan pentingnya peran semua pihak untuk menjaga kelestarian lingkungan. 

"Riau adalah rumah rumpun Melayu. Jika alam rusak, maka yang menanggung akibatnya adalah anak cucu kita sendiri," tutupnya.