Tim Medis BSMI Ungkap Krisis Kemanusiaan di Gaza

FAZ • Monday, 5 May 2025 - 14:01 WIB

JAKARTA – Tim medis darurat atau Emergency Medical Team (EMT) dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang baru saja menyelesaikan misi kemanusiaan di Gaza, Palestina, menyerukan perhatian serius dari Indonesia dan masyarakat internasional terhadap krisis kemanusiaan yang masih berlangsung akibat serangan Israel.

Salah satu anggota tim, Prof. Basuki Supartono, mengungkapkan penderitaan warga Gaza yang semakin memprihatinkan. Ia bertugas di Rumah Sakit Khan Younis, Gaza Selatan, sejak 15 April hingga 3 Mei 2025 bersama empat dokter spesialis lainnya.

“Dalam kondisi yang sangat terbatas ini, kira-kira berapa lama mereka akan bertahan? Mungkin kurang lebih 30 hari karena blokade itu nggak dibuka,” ujar Basuki dalam konferensi pers di Jakarta Timur, Minggu (4/5/2025).

Ia menuturkan, hari-hari pertama di Gaza begitu menegangkan. Suara ledakan bom terdengar hampir setiap saat, membuat tim medis kesulitan tidur.

“Waktu hari pertama kami nggak bisa tidur, karena kami nggak biasa dengar bom. Itu setiap saat berbunyi,” katanya.

Menurut Basuki, wilayah udara Gaza juga tidak pernah sepi dari pengawasan drone. Ia mencatat ada tiga jenis drone yang terus berputar di langit Gaza: untuk pengintaian wajah, pengawasan kegiatan, dan peluncuran senjata.

“Suara drone nggak pernah berhenti. Drone ada tiga, pertama menangkap foto atau wajah kita, kedua yang melemparkan senjata, dan ketiga yang bertugas observasi,” jelasnya.

Selain memberikan layanan medis, tim Emergency Medical Team (EMT) 2 BSMI juga memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat setempat. Mereka terdiri dari dr. Prita Kusumaningsih, Sp.OG; dr. Nurcholis Hendry Nugraha, Sp.An; dr. Harfindo Nismal, Sp.BM; dan drg. Muchamad Sarbini Wahid.

Basuki berharap blokade terhadap Gaza bisa segera dihentikan demi menyelamatkan warga sipil yang semakin tertekan secara fisik maupun mental.

“Kami ingin blokade dibuka secepat mungkin, kalau bisa sekarang ya dilakukan sekarang. Secara batas kemanusiaan, tidak mungkin mereka bertahan, tapi secara psikologis memang mereka kuat,” pungkasnya.