
JAKARTA – Konser DAY6 yang berlangsung pada 3 Mei 2025 di Stadion Madya, Gelora Bung Karno, Jakarta, menuai gelombang kritik keras dari para penggemar. Sejumlah insiden mulai dari pemindahan lokasi mendadak hingga berbagai kekacauan teknis dan logistik membuat promotor lokal, Mecimapro, menjadi sorotan tajam.
Awalnya konser direncanakan di Jakarta International Stadium (JIS), namun kurang dari sebulan sebelum acara, lokasi dipindahkan ke Stadion Madya tanpa penjelasan memadai. Kapasitas yang lebih kecil dan fasilitas yang dianggap menurun dibandingkan janji awal memicu protes dari penggemar.
Pada hari H, berbagai masalah kembali terjadi:
Snack box yang dibagikan kedaluwarsa; Tenda perlindungan roboh akibat hujan, menandakan lemahnya persiapan; Layar LED utama bisa terlihat dari luar stadion, menimbulkan ketidakadilan bagi pembeli tiket resmi; Gangguan teknis saat soundcheck; Panggung ditutup tenda buram, sehingga artis tidak terlihat sama sekali; Tempat duduk basah karena bantal busa menyerap air hujan; Minimnya akses air minum di tengah cuaca lembap dan antrean panjang.
Beredar pula data bahwa Mecimapro memiliki utang besar, antara lain:
Rp 3,8 miliar refund kepada My Day Indonesia (fans DAY6) yang belum dibayarkan; Utang lebih dari Rp 1 miliar ke vendor produksi dan catering; Penundaan pembayaran hingga 1 tahun ke berbagai mitra logistik; Ribuan merchandise dan tumbler yang belum dikirim ke pembeli.
Meski omzet dari konser-konser sebelumnya diperkirakan mencapai Rp 140 miliar, tanggung jawab keuangan Mecimapro dianggap sangat minim.
Para penggemar yang merasa dirugikan secara fisik, emosional, dan finansial mendesak:
Refund diselesaikan secara penuh dan cepat; Kompensasi konkret diberikan; Transparansi dan akuntabilitas Mecimapro ditegakkan secara hukum.
Hingga konser usai, Mecimapro belum menyampaikan permintaan maaf atau pernyataan resmi terkait insiden yang terjadi. Sikap ini dinilai menambah kekecewaan penggemar yang merasa tidak dihargai sebagai konsumen.
Kasus ini dinilai sebagai cerminan buruknya manajemen acara oleh promotor Mecima, dengan lemahnya komunikasi, profesionalisme, dan perlindungan konsumen.