
JAKARTA — Jobstreet by SEEK merilis laporan eksklusif bertema Hiring, Compensation, and Benefits 2025 yang membahas topik mendalam terkait tren rekrutmen, strategi kompensasi, serta adopsi AI dan nilai keberagaman di lingkungan kerja Indonesia. Laporan ini menampilkan optimism dan perkiraan positif terhadap pasar tenaga kerja nasional, khususnya menjelang paruh kedua tahun 2025.
Berdasarkan survei yang dilakukan pada September hingga Oktober 2024 terhadap para profesional HR dan rekrutmen dari berbagai industri, sebanyak 42% responden memprediksi peningkatan signifikan dalam aktivitas perekrutan pada semester kedua 2025 lebih tinggi dibanding prediksi untuk paruh pertama tahun ini. Selain itu, 94% perusahaan di Indonesia tercatat aktif melakukan rekrutmen. Salah satu perubahan paling mencolok adalah meningkatnya proporsi tenaga kerja paruh waktu, baik dalam bentuk kontrak maupun posisi tetap.
Wisnu Dharmawan, selaku Sales Director Jobstreet by SEEK Indonesia, menyampaikan bahwa tren ini mencerminkan perubahan gaya kerja modern yang mengutamakan fleksibilitas.
“Fleksibilitas kerja kini menjadi nilai tambah bagi perusahaan maupun karyawan. Banyak individu menginginkan keseimbangan hidup yang lebih baik, sehingga rekrutmen kerja paruh waktu menjadi solusi untuk menjawab kebutuhan tersebut,” jelas Wisnu.
Dalam aspek kompensasi, sebanyak 44% perusahaan kini mempertimbangkan faktor inflasi dalam menentukan kenaikan gaji. Namun, hanya sekitar 25% yang benar-benar memberikan penyesuaian upah yang sejalan atau melebihi tingkat inflasi. Laporan ini juga mencatat bahwa 80% perusahaan memberikan bonus kepada karyawan, umumnya berbasis kinerja, dengan nilai rata-rata mencapai tiga bulan gaji. Sebanyak 67% perusahaan kini telah bersikap transparan dalam menyampaikan metode perhitungan bonus tersebut.
Kemajuan teknologi juga berdampak signifikan terhadap proses rekrutmen. Sebanyak 71% perusahaan mulai mempertimbangkan pengetahuan kandidat terhadap kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu indikator seleksi.
"Dalam konteks ini, karyawan dituntut untuk semakin melek terhadap teknologi AI, karena kemampuan memahami dan menggunakan teknologi AI kini menjadi salah satu faktor penting dalam proses hiring. AI juga mulai digunakan secara luas dalam proses rekrutmen karena terbukti dapat mempercepat dan menyederhanakan proses seleksi, menjadikannya lebih efisien dan objektif.
Oleh karena itu, kandidat dengan kemampuan AI berpeluang lebih besar dalam kompetisi pencarian kerja ke depan" tambah Wisnu.
Selain itu, platform Jobstreet by SEEK jugaturut telah mulai menerapkan prinsip fair hiring, sebuah pendekatan yang menjunjung tinggi transparansi dan kesetaraan dalam proses rekrutmen. Prinsip ini bukan hanya diterapkan dalam perusahaan, tetapi juga pada platformnya. Dengan ini, proses seleksi diharapkan menjadi lebih adil dan inklusif bagi semua kandidat.
Dalam hal keberagaman dan inklusivitas, 56% perusahaan telah mengadopsi inisiatif Diversity, Equity, and Inclusion (DEI), termasuk kebijakan anti-diskriminasi (62%) dan penggunaan metode blind resume screening (44%). Namun, tantangan masih ada, terutama terkait minimnya pemahaman (35%) dan ketiadaan regulasi wajib (25%).
Melihat tren tersebut, Jobstreet by SEEK mendorong pelaku usaha untuk merancang strategi rekrutmen yang lebih adaptif dengan memanfaatkan momen penyusunan anggaran 2025. Selain menawarkan fleksibilitas kerja dan paket kompensasi kompetitif, perusahaan juga diimbau untuk menciptakan ekosistem kerja yang mendukung pengembangan kompetensi digital dan penerapan nilai-nilai inklusif.
“Di tengah transformasi dunia kerja, pengintegrasian teknologi, pemahaman terhadap nilai keberagaman, dan fokus pada kesejahteraan karyawan akan menjadi pondasi penting bagi perusahaan yang ingin unggul dalam persaingan talenta di masa depan,” tutup Wisnu.