
JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengajak pengelola jalan tol untuk lebih proaktif dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, khususnya polusi udara dan masalah sampah yang sering ditemui di area rehat tol.
Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLH, Rasio Ridho Sani menekankan bahwa kualitas udara di kota-kota besar, terutama di kawasan Jabodetabek, menjadi salah satu fokus utama pemerintah.
"Kami ingin mendorong pengelola jalan tol untuk berperan dalam memastikan bahwa kegiatan tol dapat berjalan tanpa menambah polusi udara dan kerusakan lingkungan lainnya," kata Rasio disela-sela diskusi dengan pengelola jalan tol di Jakarta, Senin (28/4/2025).
Lebih lanjut, Rasio menjelaskan meskipun jalan tol memiliki peran penting dalam memperlancar transportasi dan mengurangi kemacetan, jalan tol juga dapat menjadi sumber emisi gas rumah kaca (GRK) dan polusi udara yang berdampak pada kualitas udara.
"Kami sangat berharap jalan tol berperan penting dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup ini, mulai dari peningkatan kegiatan penanaman pohon untuk menyerap polutan di koridor tol," kata Rasio.
Berdasarkan data KLH, kendaraan bermotor yang melintas di jalan tol berkontribusi signifikan terhadap penurunan kualitas udara, dengan emisi gas buang motor yang mencapai 32 hingga 41 persen saat musim hujan.
Selain itu, KLH juga menyoroti masalah pengelolaan sampah, terutama di area rehat yang sering kali mengalami penumpukan sampah akibat banyaknya penyedia makanan dan minuman.
Rasio berharap pengelola jalan tol dapat meningkatkan pengelolaan limbah di area tersebut untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
"Pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan solusi bersama antara pemerintah dan pengelola jalan tol untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup di sekitar kawasan tol," ujar Rasio.