
Genre: Horor, Drama
Sutradara: Ryan Coogler (Black Panther, Creed)
Pemeran: Michael B. Jordan (Creed), Hailee Steinfeld, Miles Caton, Jack O’Connell
Durasi: 2 jam 18 menit
Distributor: Warner Bros. Pictures Indonesia
Mulai tayang di bioskop Indonesia termasuk IMAX: 16 April 2025
Sinners memiliki beberapa hal yang memukau. Sineas Ryan Coogler duduk di bangku sutradara, penulis, sekaligus produser. Nama besar Coogler yang pernah mengarahkan Black Panther dan Creed, meyakinkankan Sinners tak akan menjadi sekadar horor biasa.
Pemeran utamanya, bintang Creed Michael B. Jordan, telah 5 kali berkolaborasi dengan Coogler. Rekam jejak tersebut terasa sangat kuat ketika Jordan bekerja keras memerankan dua tokoh sekaligus di Sinners. Dia memainkan saudara kembar Smoke dan Stack.
Satu orang aktor bisa memerankan dua peran bersamaan dalam satu layar saja, rasanya sudah cukup membuat penonton awam terpukau. Tetapi masih banyak hal lain yang memancing decak kagum penonton Sinners.
Kita akan mengalami momen nonton yang lumayan lengkap, ada bagian deg-degan, penasaran, terhibur dengan alunan blues di sana-sini, tetapi tetap harus berpikir. Sinners diceritakan terjadi di Mississippi pada tahun 1932.
Kala itu diberlakukan hukum pemisahan secara rasial, yang mewajibkan fasilitas dipakai terpisah untuk orang kulit hitam dan kulit putih dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk sekolah, ruang publik, klub malam, dan transportasi.
Situasi itu seolah dikritik habis-habisan dan diangkat sebagai sudut pandang cerita sederhana, tetapi sebenarnya sangatlah kompleks. Tokoh utama Smoke dan Stack juga langsung mengalaminya tetapi punya hak istimewa karena mereka berbeda dengan orang Amerika-Afrika pada umumnya.
Berpakaian setelan jas rapi, lengkap dengan aksesoris dan mobil, Smoke dan Stack berbeda dari orang Amerika-Afrika yang hidup miskin sebagai pekerja perkebunan kapas. Smoke dan Stack ditampilkan ke sana ke mari dengan tumpukan uang di tangan.
Mereka diceritakan selamat dari pertempuran di Perang Dunia I dan gank Chicago, yang tampaknya bagian dari The Godfather. Dengan harta berlimpah, sekarang Smoke dan Stack kembali ke kampung halaman. Mereka baru membeli lahan dan bangunan dari orang kulit putih, sesuatu hal yang mustahil bagi orang lain, punya truk penuh minuman keras, dan kepala penuh ide-ide besar.
Smoke dan Stack akan membuka klub malam berisi hiburan rakyat di Mississippi, yaitu musik blues. Persiapan keduanya seharian mulai dari merekrut gitaris muda, anak pendeta yang juga sepupunya, Sammie Moore; musisi jalanan Delta Slim, sampai mengajak Cornbread sebagai penjaga pintu.
Interaksi Smoke dan Stack dengan berbagai tokoh lintasprofesi, mampu menarik penonton untuk memahami kuatnya budaya Afrika Amerika di Barat pada tahun 1930-an. Detail-detail tentang eksisnya orang Cina Amerika, sampai praktek spiritual hoodoo juga diangkat sebagai elemen utuh bagi penonton.
Sepanjang satu jam lebih bagian awal, Sinners terasa sebagai cerita sejarah dalam balutan musik blues, sesudahnya penonton diajak perlahan menikmati unsur horor. Transisi menuju adegan-adegan mengerikan, juga tak dirasa terlalu mengganggu. Mengagetkan tetapi tetap logis.
Satu elemen terakhir tetapi juga sangat penting yang bisa menjadi daya tarik penonton. Sinners direkam dengan kamera film khusus IMAX, kamera beresolusi tertinggi yang tersedia saat ini, dengan resolusi hampir 10 kali lipat resolusi film 35mm standar.
Khusus di bioskop IMAX, adegan Sinners akan tampil meluas secara visual hingga memenuhi layar, sehingga kita dapat menikmati lebih banyak gambar dengan detail dan kejelasan yang belum pernah ada sebelumnya.
Hal itu, dikombinasikan dengan campuran suara khusus yang dioptimalkan untuk sistem suara unik IMAX dan desain teater khusus, menciptakan pengalaman yang benar-benar memukau.