
Palu - Penghinaan terjadap ulama terkemuka Sulawesi Tebgah Sayyid ‘Idrus bin Salim al-Jufri atau Guru Tua mendapatkan rekasi keras dari berbagai kalangan. Penghinaan yang viral di Media Sosial dengan mengucapkan kata tidak layak, menghina dan menggunakan kata kasar dengan nama binatang tertentu memicu kemarahan dan luka di hati masyarakat termasuk anggota DPD RI Abdul Rachman Thaha.
Abdul Rachman Thaha yang akrab disapa ART menegaskan siapapun tidak boleh menghima para ulama termasuk Guru Tua yang berjuang, mensyiarkan islam dan membela tanah air. ART mendesak Kapolri untuk menangkapnsegeta Pelaku Penghinaan yang dilakukan dalam dialog dan viral di media sosial.
“Saya mengecam atas Penghinaan Guru Tua, mendesak Kapolri Untuk Menangkap Pelaku Penghinaan,” ujar ART kepada Wartawan, Palu, Kamis (27/3).
ART menilai para penghina itu tidak layak untuk memberikan penilaian terutama menghinanya. Penilaian terhadap Guru Tua apakah layak atau tidaknya di berikan gelar sebagai Pahlawan Nasional menjadi ranah masyarakat luas dan pemerintah bukan individu.
“ Mereka tidak layak untuk memberikan penilain terhadap Guru Tua apakah layak atau tidaknya di berikan gelar sebagai Pahlawan Nasional,” tegasnya.
ART menjelaskan video yang beredar di media sosial dalam auatu dialog samgat berbahaya dan dapat memicu konflik sosial ditengah
“Penghinaan ini sangat berbahaya bisa menimbulkan kemarahan Warga Alumni Al-Akhirat di berbagai provinsi dan menimbulkan disintevrasi bangsa,” geramnya.
Seperti diketahui, Idrus bin Salim Al-Jufri atau lebih dikenal dengan Idrus bin Salim Al-Jufri atau Guru Tua (15 Maret 1892 – 22 Desember 1969)[merupakan tokoh pejuang dari sadah Ba'Alwi di Provinsi Sulawesi Tengah yang berjuang di bidang pendidikan agama Islam pada masa penjajahan Beanda.
Bangunan sekolah yang pertama dibangun atas biaya beliau sendiri di kota Palu, merupakan sekolah Islam pertama di Palu dan kemudian berkembang menjadi cabang-cabang hingga ratusan madrasah tersebar di kota-kota dan kampung-kampung bagian Timur Indonesia yang diberi nama “ALKHAIRAAT”, dengan harapan optimis dan keberkatan dari nama tersebut yang banyak kali disebut dalam Al-Qur’an. Atas jasanya, beliau atas nama pemerintan daerah Sulawesi Tengah telah disepakatu diajukan sebagai Pahlawan Nasional.