KLH: 96% Sungai di Indonesia Tercemar, Hanya 2,19% Penuhi Baku Mutu

FAZ • Wednesday, 26 Mar 2025 - 18:48 WIB

JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat bahwa dua gugus pulau besar di Indonesia, yakni Jawa dan Bali Nusa Tenggara, mengalami krisis air bersih dalam beberapa tahun terakhir.

Deputi Bidang Tata Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan KLH, Sigit Reliantoro, mengungkapkan bahwa krisis air di Jawa telah mencapai tahap kritis. Pada 2024, wilayah tersebut mengalami defisit air hingga 118 miliar meter kubik per tahun.

“Di Jawa itu tahun 2024 kemarin, kita sudah kekurangan 118 miliar meter kubik per tahun air untuk memenuhi kebutuhan,” ujar Sigit dalam peringatan Hari Air Sedunia di Jakarta, Rabu (26/3/24).

Meski demikian, Sigit menjelaskan bahwa di wilayah lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, ketersediaan air masih mencukupi dalam segi kuantitas. Namun, dari segi kualitas, banyak daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia yang mengalami pencemaran akibat limbah rumah tangga dan industri.

“Kita melakukan pemantauan di 2.198 sungai, ada 8.627 titik yang memenuhi baku mutu itu hanya 2,19 persen. Sebagian besar, 96 persen itu cemar ringan kemudian ada beberapa yang cemar berat," ungkapnya.

Sigit menegaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan air bersih, diperlukan teknologi pengolahan yang mumpuni. Namun, hal ini berdampak pada meningkatnya biaya pengelolaan air bersih di Indonesia.

Selain itu, perubahan ekosistem juga menjadi tantangan utama dalam konservasi air. Menyusutnya tutupan lahan di beberapa DAS di Indonesia memperburuk krisis air.

Sebagai contoh, Sigit menyoroti bencana banjir yang melanda Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) pada awal Maret 2025. Menurutnya, salah satu penyebab utama banjir adalah berkurangnya tutupan lahan di DAS Ciliwung, Cisadane, dan Kali Bekasi.

Di DAS Kali Bekasi, misalnya, tutupan hutan yang tersisa hanya sebesar 3,53% dari total luas DAS, jauh di bawah batas minimal 30% yang disarankan.

“Kita juga melihat bahwa aktivitas kita itu banyak sekali yang mengganggu tutupan lahan. Sehingga daya kita untuk menampung air masuk ke dalam sistem akuifer tanah juga menurun,” pungkasnya.