
JAKARTA - Universitas Kristen Indonesia, melalui Pusat Studi Gender dan Prodi Ilmu Komunikasi, mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa talk show dengan tema “Asertivitas dan Komunikasi Efektif Lintas Generasi: Penguatan Sikap Positif Keluarga” di GPIB Menara Iman, Jakarta Timur, pada Sabtu, 22 Maret 2025, pukul 10.00-14.00 WIB.
Kegiatan ini dihadiri oleh 150 jemaat gereja, yang terdiri dari orang tua dan remaja (taruna). Dalam sambutannya, Ketua Pusat Studi Gender UKI, Dr. Audra Jovani, menyatakan bahwa pusat studi memiliki tanggung jawab akademik dalam pengajaran, riset, dan pengabdian kepada masyarakat terkait isu gender di berbagai aspek. Termasuk ketahanan keluarga dan pola komunikasi asertif lintas generasi, mulai dari generasi Builders, Boomers, Gen X, Gen Y, Gen Z, hingga Gen Alpha (ayah, ibu, anak, opa, oma).
Dr. Helen Diana Vida, Wakil Dekan Fisipol UKI, juga menegaskan bahwa kerja sama antara UKI dan GPIB Menara Iman akan terus berlanjut dalam bentuk sosialisasi, penyuluhan, dan pendampingan.
Di kelas remaja, narasumber pertama, Formas Juitan Lase, M.I.Kom (Dosen Ilmu Komunikasi), memaparkan bahwa penggunaan gadget dan screen time di kalangan anak dan remaja terus meningkat dan menjadi perhatian karena dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan hubungan sosial, terutama dengan orang tua. Screen time yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan kecemasan.
“Anak yang menghabiskan terlalu banyak waktu dengan gadget dapat mengalami kesulitan dalam membangun hubungan dan berinteraksi dengan orang tua serta teman-temannya. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan komunikasi yang efektif dalam keluarga,”ujar Formas.
“Orang tua dan anak perlu membuat aturan dalam mengelola penggunaan gadget dan screen time. Anak belajar melalui meniru, sehingga orang tua harus memberikan contoh yang baik, misalnya dengan tidak menggunakan gadget saat makan bersama dan menggantinya dengan obrolan santai. Dengan cara ini, anak dapat menerapkan aturan screen time tanpa paksaan,” tambahnya.
Narasumber selanjutnya di kelas remaja, Eustalia Wigunawati, MA (Dosen Bimbingan Konseling), menjelaskan bahwa komunikasi asertif membantu anak dan remaja mengungkapkan perasaan dan kebutuhan mereka dengan jelas, tanpa menyakiti orang lain.
“Dengan belajar komunikasi asertif, anak dan remaja dapat membangun kepercayaan diri, meningkatkan hubungan sosial, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat. Oleh karena itu, orang tua dan pendamping dapat membantu anak dan remaja mengembangkan komunikasi asertif dengan menjadi contoh yang baik, memberikan dukungan, dan melatih mereka untuk mengungkapkan diri dengan tegas dan sopan,”kata Eustalia.
Pentingnya Peran Orang Tua
Di kelas orang tua, Prof. Chontina Siahaan (Dosen Ilmu Komunikasi), mengatakan bahwa era digital membatasi komunikasi tatap muka dan interaksi langsung, menggantinya dengan komunikasi intensif melalui media digital dan aplikasi.
“Akibatnya, hubungan interpersonal antara orang tua dan anak menjadi terbatas, dengan interaksi dyadic yang tergantikan oleh hubungan melalui media digital,” jelas Chontina.
Lebih lanjut, Singgih Sasongko, M.Si (Dosen Ilmu Komunikasi), menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran suami-istri anggota Jemaat GPIB Menara Iman akan pentingnya membangun komunikasi yang efektif dan asertif di tengah derasnya pengaruh media dan perangkat komunikasi yang semakin canggih.
“Pasangan suami-istri sebagai pilar keluarga diharapkan mampu menerapkan keterampilan komunikasi asertif dalam kehidupan sehari-hari agar keharmonisan rumah tangga tetap terjaga dan langgeng sesuai dengan kehendak Tuhan,”ujar Singgih.
Evi Deliviana, M.Psi (Psikolog), menambahkan bahwa ketika keluarga menerapkan komunikasi asertif, setiap anggota dapat lebih memahami perspektif dan perasaan satu sama lain, yang memperkuat ikatan emosional.
“Komunikasi asertif juga membantu anggota keluarga mengatasi konflik dengan mengungkapkan kebutuhan dan kekhawatiran tanpa saling menyalahkan, sehingga mereka dapat bekerja sama untuk menemukan solusi yang saling memuaskan,” kata Evi.
“Selain itu, komunikasi asertif meningkatkan rasa berharga dan kepercayaan diri setiap anggota keluarga. Ketika individu merasa didengarkan dan dihormati, mereka lebih cenderung menghargai pendapat mereka sendiri dan merasa diberdayakan untuk mengekspresikan diri. Gaya komunikasi ini menciptakan lingkungan keluarga di mana semua orang merasa dihargai,” tuturnya.
Kegiatan ditutup dengan role play yang melibatkan satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak, untuk melihat sejauh mana komunikasi asertif antara mereka. Secara keseluruhan, peserta sangat antusias dalam sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Dr. Helen Diana Vida, dengan bantuan fasilitator Grace Santy Angelina dan Dewi Tresia Ambarita, mahasiswa dari Prodi Ilmu Komunikasi dan Prodi Ilmu Politik. Kegiatan ini diakhiri dengan doa penutup, foto bersama, dan pemberian door prize.