Memahami Perpetual Trading Futures dan Cara Kerjanya

ANP • Wednesday, 19 Mar 2025 - 08:45 WIB

JAKARTA - Salah satu fitur yang banyak digunakan dalam dunia crypto adalah perpetual trading. Perdagangan ini memberikan kesempatan kepada trader untuk melakukan spekulasi harga dalam dua arah, baik naik maupun turun, sehingga menciptakan lebih banyak peluang dalam aktivitas perdagangan crypto.

Namun sebelum melakukan perpetual trading, maka langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah memilih aplikasi crypto futures Indonesia yang memiliki fitur trading futures. Karena tidak semua aplikasi lokal memiliki fitur tersebut.

Syarat kedua yang harus kamu miliki untuk terjun di trading futures kamu harus bisa menganalisa pergerakan kurs bitcoin atau aset crypto lainnya. Hal ini akan menentukan apakah kamu bisa mendapatkan peluang atau kerugian.

Apa Itu Perpetual Trading?

Perdagangan perpetual merupakan sebuah kontrak derivatif yang mirip dengan kontrak berjangka, namun tanpa adanya tanggal kadaluarsa. Ini memberikan keleluasaan bagi trader untuk mempertahankan posisi selama yang mereka inginkan, asalkan mereka memenuhi syarat margin.

Perdagangan perpetual seringkali melibatkan penggunaan leverage, yang memungkinkan trader untuk membuka posisi yang lebih besar dari modal yang tersedia, meskipun dengan risiko yang lebih tinggi. Ketidakadaan tanggal kadaluarsa membuat kontrak perpetual lebih adaptif.

Trader tidak perlu khawatir tentang melakukan rolling posisi ke kontrak baru saat masa kadaluarsanya mendekat. Namun, karena adanya leverage yang tinggi, risiko kehilangan modal juga meningkat, sehingga penting bagi trader untuk melakukan manajemen risiko yang baik.

Cara Kerja Perpetual Trading

Perpetual trading beroperasi dengan mengandalkan harga indeks yang diambil dari harga spot pada berbagai bursa crypto. Harga indeks ini bertindak sebagai referensi untuk menetapkan nilai kontrak perpetual.

Untuk memastikan harga kontrak perpetual tetap sejalan dengan harga spot, diterapkan suatu mekanisme pendanaan. Mekanisme pendanaan melibatkan pembayaran berkala antara trader yang memiliki posisi Long dan Short.

Apabila harga kontrak perpetual lebih tinggi daripada harga spot, trader dengan posisi Long akan membayar biaya pendanaan kepada trader dengan posisi Short, dan sebaliknya. Pembayaran ini dilakukan setiap beberapa jam dan bertujuan untuk menyelaraskan perbedaan antara harga kontrak dan harga spot untuk menjaga kestabilan harga.

Jenis Posisi dalam Perpetual Trading

Posisi Long:

Trader mengambil posisi Long ketika mereka mempercayai bahwa harga aset crypto akan meningkat di masa mendatang. Dalam posisi ini, trader membeli kontrak dengan harapan bisa menjualnya di harga yang lebih tinggi untuk meraih peluang.

Saat harga aset naik, nilai posisi Long juga akan bertambah, sehingga trader dapat mendapatkan peluang.

Posisi Short:

Trader memilih posisi Short ketika mereka percaya bahwa harga aset crypto akan turun di masa yang akan datang. Dalam posisi ini, trader menjual kontrak dengan harapan bisa membelinya kembali dengan harga yang lebih rendah untuk menghasilkan peluang.

Mekanisme dalam Perdagangan Perpetual

Dilansir dari Pintu Academy, beberapa mekanisme di bawah ini merupakan elemen krusial untuk memastikan bahwa perdagangan perpetual berfungsi dengan baik.

Perpetual Funding Rate 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tingkat pembiayaan adalah cara untuk memastikan bahwa harga indeks yang digunakan sebagai acuan untuk kontrak perpetual dapat selaras dengan harga spot.

Tingkat pembiayaan adalah biaya yang ditransfer antara pihak long dan short dari suatu kontrak, tergantung pada perubahan pasar. Secara umum, biaya ini dibayarkan setiap delapan jam.

Ketika harga kontrak perpetual jauh lebih tinggi atau rendah dibandingkan harga spot, peran tingkat pembiayaan menjadi jelas.

Ia akan mendorong para trader untuk mengambil posisi berlawanan dengan kondisi pasar guna mengurangi perbedaan harga. Tingkat pembiayaan dapat bernilai positif atau negatif, memberikan dampak dari kedua sentimen ini, antara lain:

  • Tingkat pembiayaan positif terjadi ketika perpetual diperdagangkan di atas harga spot. Trader long akan membayar biaya kepada trader short.
  • Tingkat pembiayaan negatif muncul saat perpetual diperdagangkan di bawah harga spot. Dalam situasi ini, trader short membayar kepada trader long.
  • Tingkat pembiayaan dapat membantu meningkatkan efisiensi dalam perdagangan perpetual. Temukan caranya di sini.

Leverage

Leverage adalah fitur yang memungkinkan trader untuk meminjam dana dari bursa agar dapat melakukan perdagangan dengan modal yang lebih besar. Dengan adanya leverage, pengguna dapat meningkatkan kemampuan membeli, sehingga memungkinkan untuk bertransaksi dengan jumlah uang yang lebih dari yang dimiliki di dompet mereka.

Biasanya, tingkat leverage dijelaskan dengan rasio seperti 1:5 (5x), 1:10 (10x), atau 1:20 (20x). Rasio ini menggambarkan berapa kali modal awal pengguna akan diperbesar. Contohnya, jika kamu memiliki $100 di akun namun ingin memperdagangkan BTC senilai $500, maka dengan leverage 5x, $100 akan memiliki daya beli setara dengan $500.

Peluang dari penggunaan leverage adalah dapat meningkatkan potensi seiring dengan bertambahnya modal. Selain itu, pengguna dapat meningkatkan likuiditas dalam modal mereka. Jadi, alih-alih membeli BTC seharga $100, mereka bisa menggunakan $10 dengan leverage 10x. Sisa modal bisa digunakan untuk membuka posisi lain atau berinvestasi di platform DeFi.

Namun, leverage juga menambah risiko yang lebih besar. Semakin tinggi tingkat leverage yang digunakan, semakin rendah toleransi terhadap fluktuasi harga. Selain itu, ada risiko likuidasi yang dapat menyebabkan kamu kehilangan seluruh modal jika pergerakan harga tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Margin

Margin merujuk pada jumlah uang yang wajib disetorkan oleh investor kepada bursa untuk membuka posisi dalam perdagangan perpétual. Dana ini berfungsi sebagai jaminan oleh bursa terhadap kemungkinan kerugian yang dialami trader.

Sebagai ilustrasi, untuk memasuki posisi senilai $1.000 dengan margin awal 20% (5x leverage), trader perlu menyiapkan margin sebesar $200.

Di samping membuka posisi, margin juga penting untuk menjaga agar posisi tetap aktif, yang dikenal sebagai maintenance margin. Apabila saldo margin turun di bawah maintenance margin, trader akan menghadapi likuidasi.

Misalnya, untuk menjaga posisi seharga $1.000 dengan persyaratan maintenance margin 5%, jumlah margin yang terkunci adalah $50. Sebelum likuidasi terjadi, bursa akan menginformasikan trader melalui yang disebut margin call.

Likuidasi

Likuidasi merupakan risiko utama dalam perdagangan perpétual. Ini terjadi ketika trader tidak dapat mempertahankan maintenance margin. Saat likuidasi terjadi, saldo di seluruh akun futures trader akan hilang.

Faktor kunci yang mempengaruhi likuidasi adalah level leverage yang digunakan. Semakin tinggi leverage yang diterapkan, maka semakin rendah toleransi terhadap fluktuasi harga. Dengan kata lain, penggunaan leverage yang tinggi membuat trader lebih rentan terhadap likuidasi.

Sebagai contoh, jika kamu membuka posisi BTC/USDT dengan margin sebesar $50 dan menggunakan leverage 10x, nilai posisi itu menjadi $500.

Namun, jika harga BTC mengalami penurunan sebesar 10%, kerugian yang dialami berjumlah $50, sehingga modal awal trader menjadi hilang. Bursa kemudian akan melakukan likuidasi akunmu sebelum harga BTC jatuh lebih jauh.

Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.

Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.