Perkuat Kinerja, Kemenag Luncurkan Delapan Program Prioritas (Asta Prontas)

AKM • Friday, 7 Mar 2025 - 10:10 WIB
Menag Nasaruddin Umar (Tengah) memperkenalkan sekaligus meluncurkan Asta Protas atau delapan program prioritas - Istimewa

Jakarta - Setiap kementerian dan lembaga negara memiliki cara dan strategi untuk mewujudkam Asta Cita serta 17 program prioritas yang telah ditetapkan Presiden Prabowo Subianto, 

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memperkenalkan sekaligus meluncurkan Asta Protas atau delapan program prioritas yang akan menjadi pedoman pelaksanaan kerja untuk 5 tahun mendatang.

"Asta Protas ini berisi delapan program besar, yang outputnya diharapkan berdampak langsung pada masyarakat serta berkontribusi terhadap penyelesaian Asta Cita dan 17 program prioritas Presiden dan Wapres," ujar Nasaruddin kepada Media, di kantor Kemenag, Jakarta, Kamis (6/3)

Delapan program prioritas Kemenag ini meliputi peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan penguatan ekoteologi, layanan keagamaan berdampak, mewujudkan pendidikan unggul, ramah dan terintegrasi. Selain itu, juga berisi pemberdayaan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, sukses haji dan terakhir digitalisasi tata kelola.  

Pertama, soal peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan. Ada beberapa hal penting yang dilakukan, antara lain adalah upaya peningkatan kualitas kerukunan, penguatan moderasi beragama pengembangan dan insersi kurikulum berbasis cinta kemanusiaan dan penghargaan terhadap perbedaan.

"Regulasi kerukunan umat beragama akan kita perkuat, termasuk penguatan peran KUA untuk mendeteksi dini potensi konflik berdimensi keagamaan," kata Menag

Kedua, penguatan ekologi. Krisis iklim menjadi isu global. Indonesia harus terdepan dalam pelestarian lingkungan. Upaya itu harus berangkat dari pemahaman dan kesadaran keagamaan akan pentingnya merawat bumi.

Agama kaya akan nilai pelestarian lingkungan. Di Islam ada konsep khilafah yang harus dipahami manusia sebagai pelestari alam raya. Ada ajaran Tri Hita Karana dalam Hindu, dan Laudato Si' dalam Katolik.

Ketiga, layanan keagamaan berdampak. Kemenag harus hadir di setiap problem keagamaan umat. Relevansi program menjadi penting agar ada dampak yang dirasakan langsung.

Hal ini antara lain akan kita lakukan melalui penguatan Bimbingan Perkawinan, Pengarusutamaan Keluarga Maslahat, Pembangunan KUA Inklusif dan Ramah.

"Kita juga akan lakukan penguatan layanan keagamaan di wilayah 3T," kata Menag.

Keempat, mewujudkan pendidikan unggul, ramah, dan terintegrasi. Bagian tugas Kemenag adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemenag bersyukur lembaga pendidikan agama dan keagamaan makin kompetitif.

"Ke depan kita akan kembangkan agar lebih unggul lagi, terintegrasi dalam sistem, terdigitalisasi, relevan, serta didukung SDM berkualitas dan sarana prasarana yang memadai dan inklusif," kata Nasaruddin.

"Kita juga akan selesaikan PPG Guru Dalam Jabatan, insya Allah dalam dua tahun ke depan. Jika guru tersertifikasi, harapannya akan lebih profesional. Kesejahteraan juga bisa ditingkatkan melalui tunjangan profesi," kata Menag.

Kelima, pemberdayaan pesantren. Pesantren berkontribusi, sejak sebelum Indonesia merdeka. Lahirnya UU Pesantren menjadi momentum rekognisi dan afirmasi.

"Kemenag terus komitmen kembangkan pesantren sebagai tempat pembelajaran yang aman, ramah anak, dan inklusif," kata Menag.

Keenam, pemberdayaan ekonomi umat. Masyarakat Indonesia dikenal religius dan peduli. Karenanya, potensi dana sosial keagamaan Indonesia mencapai ratusan triliun. Zakat misalnya, potensinya mencapai Rp327 triliun. Tapi yang terhimpun baru sekitar Rp41 triliun.

"Kita akan lakukan penguatan tata kelola untuk optimalisasi peran dana sosial keagamaan," papar Menag.

Ketujuh, sukses haji. Haji 2025 kemungkinan menjadi haji terakhir dikelola Kemenag. Kemenag harus memberikan legacy terbaik.

"Kita upayakan jamaah tersenyum di awal, saat persiapan, senyum di tengah saat menjalankan ibadah haji, dan senyum di akhir usai berhaji. Semoga semua mabrur," tutur Menag.

Kedelapan, digitalisasi tata kelola. Digitalisasi adalah kunci untuk layanan keagamaan yang murah, mudah, efisien dan transparan.

"Kami ingin, digitalisasi di semua layanan. Beragam informasi disajikan dalam satu layanan data," tandas Menag.