Cegah Abrasi dan Perubahan Iklim, Menteri LH Dorong Pelestarian Mangrove

FAZ • Thursday, 27 Feb 2025 - 19:46 WIB

BEKASI – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq memimpin aksi bersih-bersih di kawasan hutan bakau atau mangrove dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025. Kegiatan ini berlangsung di Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, sebagai upaya nyata dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir.  

Menteri Hanif menegaskan bahwa ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.  

"Kolaborasi dalam Aksi Bersih Mangrove ini merupakan langkah konkret untuk menjaga ekosistem pesisir. Hutan mangrove berperan krusial dalam mencegah erosi, menyediakan habitat bagi berbagai spesies, serta menyerap karbon guna mengurangi dampak perubahan iklim," ujar Menteri Hanif di Bekasi, Kamis (27/2/25).

Hanif menjelaskan bahwa aksi bersih-bersih ini dilakukan sebagai respons terhadap semakin banyaknya pencemaran di kawasan mangrove akibat sampah mikroplastik, limbah rumah tangga, dan bahan berbahaya lainnya. Sampah yang terbawa arus sungai ini menumpuk di akar pohon bakau, menghambat pertumbuhan tanaman, serta mengganggu kemampuan ekosistem dalam menyerap oksigen dan nutrisi.  

"Pada akhirnya, kondisi ini bisa merusak rantai ekosistem dan mengancam keberlanjutan lingkungan pesisir," katanya.

Selain itu, sampah plastik yang mencemari ekosistem mangrove juga berdampak buruk bagi biota laut. Sementara itu, dekomposisi sampah organik menghasilkan gas metana yang memperparah perubahan iklim.  

"Jika tidak dikelola dengan baik, sampah ini akan merusak kualitas air serta keseimbangan ekosistem mangrove. Oleh karena itu, pengelolaan sampah yang efektif sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut," tambahnya.

Hanif juga mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 20 persen hutan bakau dunia, dengan luas mencapai 3,44 juta hektare yang tersebar di seluruh kepulauan Nusantara. Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai penahan abrasi, tetapi juga sebagai penyerap karbon yang sangat efektif.  

"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mangrove mampu menyimpan dan menahan karbon hingga 20 persen lebih banyak dibandingkan hutan di daratan. Mangrove adalah ekosistem pesisir yang sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim," jelasnya.  

Namun, kondisi hutan bakau di Indonesia saat ini sudah banyak yang mengalami degradasi akibat erosi dan abrasi air laut. Hal ini bahkan berdampak pada kerusakan tambak, sawah, hingga permukiman warga di kawasan pesisir.  

Hanif berharap aksi bersih-bersih mangrove ini menjadi langkah awal dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan HPSN 2025 sebagai momentum meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih baik.  

"Semoga kegiatan positif seperti ini terus berlanjut dan memberikan dampak besar bagi masyarakat serta lingkungan. Dengan komitmen bersama, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan lestari," ujar Hanif. 

Di akhir acara, Hanif menegaskan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.  

"Semakin besar sampah yang kita keluarkan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus kita tunaikan. Mari kita jadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari gaya hidup untuk Indonesia yang lebih bersih dan sehat," pungkasnya.