
JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan bahwa Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) pada 2024 telah mencatat 1.762 eco-inovasi, meningkat 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1.193 inovasi.
"Pada tahun 2024 tercatat 1.762 eco-inovasi telah dilahirkan oleh perusahaan. Jumlah ini meningkat 47 persen dari tahun sebelumnya," kata Hanif dalam acara Anugerah Lingkungan PROPER di Jakarta, Senin (24/2/2025).
Hanif menjelaskan bahwa eco-inovasi yang dikembangkan oleh perusahaan memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan dan efisiensi industri. Pada 2024, program ini berhasil mencatat pencapaian berikut: Penghematan energi sebesar 443,92 juta GJ; Penurunan emisi gas rumah kaca sebanyak 139,81 juta ton CO2eq; Reduksi emisi konvensional sebesar 23,73 juta ton; Pengurangan limbah B3 hingga 106,79 juta ton; Pengelolaan limbah Non-B3 dengan metode 3R mencapai 52,89 juta ton; Efisiensi penggunaan air sebesar 472,91 juta m³.
Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, Hanif menegaskan bahwa PROPER juga berdampak positif secara sosial. Sepanjang 2024, perusahaan telah menyalurkan dana pemberdayaan masyarakat sebesar Rp1,71 triliun, meningkat 9,25 persen dari tahun sebelumnya.
"Upaya perbaikan kinerja pengelolaan lingkungan juga berdampak positif terhadap masyarakat. Pada tahun 2024 ini tercatat dana Rp1,71 triliun kegiatan pemberdayaan telah bergulir di masyarakat," ujar Hanif.
Dukungan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) juga terus dilakukan. Pada 2024, tercatat ada 25.966 kegiatan yang berkaitan dengan target SDGs.
Hanif menegaskan bahwa PROPER bukan sekadar alat pemantauan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi lingkungan, tetapi juga menjadi instrumen untuk mendorong inovasi sosial, penerapan Life Cycle Assessment (LCA), evaluasi dengan Social Return on Investment (SROI), serta implementasi Green Leadership.
"PROPER telah menjadi instrumen utama dalam pengendalian dampak lingkungan industri selama lebih dari dua dekade. Kriteria penilaiannya terus berkembang dengan pendekatan yang semakin inovatif dari tahun ke tahun," pungkasnya.