KLH Usulkan Perubahan MoU, Perkuat Kerja Sama di Sektor Lingkungan dengan Norwegia

FAZ • Wednesday, 19 Feb 2025 - 20:46 WIB

JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Pemerintah Norwegia membahas kerja sama strategis di bidang lingkungan hidup, khususnya terkait isu Triple Planetary Crisis, yaitu perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Menteri Hanif menegaskan komitmen Indonesia dalam menangani isu Triple Planetary Crisis dan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Norwegia. 

“Indonesia telah menjalin kerja sama yang baik dalam bidang iklim dan lingkungan hidup bersama Norwegia,” ujar Menteri Hanif di Jakarta, pada Rabu (19/2/25).

KLH mengusulkan beberapa perubahan pada nota kesepahaman sebelumnya, termasuk dalam hal penurunan emisi, mekanisme kelembagaan, dan bentuk kemitraan. Salah satu poin penting adalah Contribution Agreement dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) yang mengatur Result-Based Contribution (RBC) dari Norwegia untuk mendukung program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

Selain itu, Indonesia telah membuka perdagangan karbon dalam skala nasional dan internasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021. Program ini diimplementasikan melalui Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia (SPEI) yang resmi berlaku sejak 20 Januari 2025 yang lalu.

“Perdagangan karbon Indonesia masih memerlukan pengembangan yang signifikan untuk memberi kontribusi bagi pengelolaan aset negara dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” jelas Menteri Hanif.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia juga menyampaikan posisi pada Perundingan 5th INC on Plastic Pollution. Menteri Hanif menegaskan bahwa Indonesia tidak berpihak kepada kelompok mana pun dan tetap berpegang pada kepentingan nasional.

“Indonesia memandang International Legal Binding Instrument (ILBI) harus mendukung kesiapan nasional dalam melaksanakan komitmen Zero Waste Zero Emission 2050 serta investasi dalam pengembangan industri plastik yang berkelanjutan,” paparnya.

Selain itu, Indonesia menekankan pentingnya peningkatan kemandirian dalam pengelolaan sampah serta pengurangan ketergantungan terhadap impor, termasuk melalui edukasi dan peningkatan kesadaran publik.

Sementara itu, Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia, Andreaz Bjelland Eriksen, menyampaikan optimisme terhadap masa depan kerja sama dengan Indonesia. 

“Kami sangat bersemangat untuk masa depan yang lebih baik. Kami melihat potensi besar untuk kolaborasi dalam berbagai bidang, tidak hanya memangkas emisi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan peluang bagi masyarakat Indonesia dan Norwegia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Menteri Andreaz menambahkan bahwa Norwegia tengah mendalami berbagai kemungkinan kerja sama inovatif dengan Indonesia guna memperkuat kemitraan di masa mendatang.

“Kami sedang mendalami kolaborasi yang sangat menarik di masa datang dengan Indonesia dan tentunya ingin memperluas kemitraan kami dengan inovasi,” pungkas Menteri Andreaz.