Saham Allo Bank Milik CT Ambrol 91 Persen dari Level Puncak

MUS • Wednesday, 22 Jan 2025 - 11:10 WIB

Jakarta – Saham PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), bank digital milik CT Corp, terus menurun tajam sejak mencapai level tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) beberapa tahun lalu.

Berdasarkan data terbaru, saham BBHI ditutup melemah 2,13 persen ke level Rp690 per saham pada Selasa (21/1/2025).

Dikutip dari idxchannel, saham bank besutan Chairul Tanjung (CT) ini telah terkoreksi 14,29 persen dalam sebulan terakhir. Bahkan, sepanjang setahun belakangan, saham BBHI anjlok hingga 45,88 persen, mengukuhkan tren penurunan signifikan.

Pada perdagangan 11 Januari 2022, saham BBHI sempat menyentuh level ATH di Rp8.100 per saham, didukung pelaksanaan aksi korporasi berupa penambahan modal melalui rights issue.

Namun, sejak rights issue tersebut, saham BBHI terus melemah, terjun hingga 91,48 persen dari rekor tertingginya. Penurunan ini mengindikasikan aksi ambil untung (profit-taking) besar-besaran oleh investor serta pudarnya narasi bank digital dan aksi korporasi perusahaan.

Kilas balik, rights issue BBHI pada awal 2022 sempat menjadi sorotan. Aksi ini melibatkan nama besar seperti Grup Salim, unicorn teknologi Bukalapak, hingga raksasa ride-hailing GRAB. Selain itu, Carro, Growtheum Capital Partners, dan Traveloka juga berpartisipasi, menyuntikkan modal inti BBHI sebesar Rp4,80 triliun.

Kinerja Keuangan Tertekan

Performa keuangan BBHI kini juga menunjukkan tekanan. BBHI mencatatkan laba bersih sebesar Rp302,59 miliar hingga kuartal III-2024. Angka ini mengalami penurunan sebesar 10,69 persen secara tahunan (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp338,82 miliar.

Penurunan laba bersih ini terjadi meskipun pendapatan bunga bersih BBHI mengalami pertumbuhan 8,18 persen YoY, naik menjadi Rp818,69 miliar hingga kuartal III-2024 dari Rp756,77 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Singkatnya, kinerja saham dan keuangan yang melemah ini menjadi tantangan besar bagi BBHI di tengah ekspektasi pasar terhadap bank digital yang semakin memudar.