Pengamat: Keanggotaan Indonesia di BRICS Jadi Peluang dan Tantangan Diplomasi

ANP • Tuesday, 21 Jan 2025 - 19:07 WIB

Jakarta – Pengamat hubungan internasional dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Aleksius Jemadu, menilai langkah Indonesia bergabung dengan BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) sebagai peluang besar untuk memperkuat pengaruh internasional, terutama di bidang ekonomi. Namun, ia mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati dalam mengelola potensi risiko dari keputusan tersebut.

“Masuknya Indonesia ke BRICS dapat membuka akses ke pasar besar yang mencakup hampir 55% GDP dunia. Tapi manfaat ini hanya akan terasa jika Indonesia mampu memanfaatkan peluang tersebut secara maksimal, termasuk meningkatkan daya saing dan penetrasi ke pasar negara-negara BRICS,” jelas Aleksius dalam Seminar Nasional BRICS dan Indonesia: Peluang Tantangan dan Strategi Kolaborasi Global di Kampus Universitas Nasional Jakarta, Kamis (21/1/2025).

Aleksius menekankan pentingnya Indonesia memainkan peran strategis di BRICS, bukan sekadar menjadi pengikut negara besar seperti China dan Rusia. “Keberadaan kita di BRICS harus diarahkan untuk membawa keuntungan material, misalnya dengan memperluas ekspor dan investasi. Jangan sampai kita justru dimanfaatkan oleh negara-negara besar di dalamnya,” katanya.

Ia juga menyoroti rendahnya penetrasi Indonesia ke pasar negara-negara anggota BRICS, seperti China dan India. “Dibandingkan negara-negara ASEAN lain, posisi kita masih tertinggal. Ini pekerjaan rumah yang harus segera diatasi agar keanggotaan di BRICS memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional,” ujarnya.

BRICS dan OECD Bisa Berjalan Seiring

Aleksius menilai langkah Indonesia bergabung dengan BRICS tidak menghalangi ambisinya untuk menjadi anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Menurutnya, keanggotaan di kedua organisasi tersebut dapat berjalan seiring.

“Masuk ke OECD membutuhkan perbaikan internal, seperti penegakan hukum, transparansi, dan pemberantasan korupsi. Kalau itu semua terpenuhi, peluang kita untuk bergabung tetap terbuka, meski kita sudah menjadi anggota BRICS,” tambahnya.

Hubungan dengan Amerika Serikat Tetap Penting

Aleksius juga mengingatkan bahwa hubungan dengan Amerika Serikat, yang memiliki investasi besar di Indonesia, harus tetap dijaga meski Indonesia kini menjadi bagian dari BRICS. “Saya tidak berpikir Amerika akan mencabut semua investasinya, tetapi kita harus mengantisipasi potensi hambatan, seperti kenaikan tarif untuk masuk ke pasar Amerika,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa diplomasi yang cerdas diperlukan untuk memastikan bahwa keanggotaan Indonesia di BRICS tidak menimbulkan kesan keberpihakan eksklusif pada salah satu blok kekuatan besar dunia.

Peran Indonesia di Global Selatan

Terkait isu global, Aleksius menilai Indonesia memiliki peluang untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara Global Selatan di BRICS. “Sebagai negara yang memiliki sejarah panjang dalam gerakan non-blok, Indonesia bisa menjadi suara bagi negara-negara berkembang untuk memastikan sistem internasional lebih adil,” katanya.

Aleksius menutup pandangannya dengan optimisme, tetapi tetap memberi peringatan kepada pemerintah. “Keanggotaan di BRICS adalah peluang besar, tetapi pemerintah harus bekerja keras untuk memastikan manfaat ini dirasakan oleh rakyat. Dengan diplomasi yang cerdas dan daya saing yang tinggi, Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan pengaruhnya di kancah global,” pungkasnya.