
Jakarta - Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) yang berdiri sejak tahun 1971 merupakan salah satu masjid yang masuk kategori masjid agung. Masjid ini berada dibawah naungan pemerintah Kota Jakarta Pusat dan susunan pengurusnya dipilih serta dilantik oleh Wali Kota Jakarta Pusat.
Masjid Agung Sunda Kelapa yang berada di jantung kota Jakarta merupakan masjid yang memiliki ciri khas tersendiri dan berada di kawasan elit Menteng Jakarta Pusat. Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) beserta jajarannya mendapat undangan audiensi dan silaturahmi bersama Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat, Arifin.
"Kegiatan dan program dakwah yang diselenggarakan MASK patut di contoh dan ditiru oleh masjid-masjid yang lain sebagai tempat rujukan terhadap pengelolaan masjid. Dengan melakukan survey terhadap jemaahnya yang datang ke masjid, sehingga mendapatkan data riil dan masukan yang diinginkan oleh para jemaah untuk memakmurkan serta memajukan masjid ini. Sarana prasarana terus ditambah seperti area bermain untuk anak-anak, lapangan basket dan lift hingga jalur disabilitas yang dibangun semua itu dilakukan agar jemaah dapat melaksanakan ibadah di masjid ini dengan rasa nyaman," kata Arifin.
Lampu penerangan juga akan ditambah untuk mempercantik keindahan masjid ini. Keamanan dan kenyamanan juga menjadi prioritas utama agar jemaah yang akan melaksanakan ibadah tidak terganggu.
"Masjid adalah tempat ibadah dan ini merupakan rumah Allah SWT. Kita hanya diberikan tugas dan mengemban tanggung jawab untuk menjaga serta merawat rumah Allah SWT ini," Arifin.
Ketua Dewan Pengurus MASK Setyanto P. Santosa yang didampingi oleh KH. Soleh Asri (Wakil Ketua 1) dan Bambang Setiono (Wakil Ketua 2), diterima secara langsung oleh Arifin dikantornya. Acara audiensi dan silaturahmi ini berjalan dengan penuh kehangatan.
Sebagai Ketua Dewan pengurus MASK, Setyanto P. Santosa memaparkan semua kegiatan dan program dakwah yang telah dilaksanakan selama ini. Banyak capaian yang telah terlaksana dan program-program dakwah yang sedang berjalan terus diupayakan untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
"Masjid ini merupakan milik umat dan selalu menghargai setiap perbedaan, jika terjadi perbedaan maka harus disikapi secara bijaksana. Para pendiri dan pendahulu dari masjid ini memiliki cita-cita besar untuk memajukan dakwah syiar islam dan memberikan banyak ilmu untuk umat yang di mulai dari kawasan ini. Dengan semangat itu Masjid Agung Sunda Kelapa menjadi pusat peradaban dan pusat peribadatan," pungkas Setyanto.