
Jakarta - Awal tahun 2025, dunia dikejutkan dengan peningkatan kasus infeksi saluran napas di China yang dikaitkan dengan Human Metapneumovirus (HMPV). Namun, berbagai informasi yang beredar di media dan grup percakapan daring justru menimbulkan kebingungan.
Meluruskan kabar tersebut, Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, memberikan penjelasan, “HMPV ini sebenarnya bukan virus baru. Virus ini sudah dilaporkan pertama kali di jurnal ilmiah pada Juni 2001, meskipun kemungkinan besar sudah bersirkulasi jauh sebelumnya,” ujar Prof. Tjandra.
Menurutnya, laporan tentang HMPV setelah tahun 2001 juga ditemukan di berbagai negara seperti Norwegia, Jepang, dan Rumania. Hal ini menunjukkan bahwa HMPV bukanlah fenomena baru, meski lonjakan kasusnya menarik perhatian.
Selain itu, HMPV memiliki hubungan dengan Animal Metapneumovirus (AMPV), virus yang menyerang unggas. AMPV ditemukan lebih dulu pada tahun 1978 di Afrika Selatan. “Para peneliti menduga, virus HMPV ini adalah hasil evolusi dari salah satu subtipe AMPV, yaitu tipe C,” tambah Prof. Tjandra. Evolusi ini menyebabkan virus yang awalnya menyerang hewan dapat menginfeksi manusia, tetapi mekanismenya hingga kini masih terus diteliti.
Di sisi lain, Prof. Tjandra juga menyoroti adanya hoaks yang mengklaim bahwa China telah menetapkan “State of Emergency” akibat lonjakan kasus HMPV, influenza A, dan COVID-19, "Ini tidak benar. Tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah China ataupun WHO yang menyebutkan hal tersebut,” tegasnya.
Hoaks semacam ini menurutnya, hanya memperkeruh situasi. Media internasional seperti The Economic Times juga telah membantah klaim tersebut.
Terkait upaya untuk membandingkan HMPV dengan COVID-19, Prof. Tjandra menyatakan bahwa hal tersebut kurang tepat. “HMPV bukanlah varian baru, melainkan virus yang sudah ada sejak lama. Gejalanya memang mirip, seperti demam, batuk, hingga sesak napas, tetapi ini adalah ciri khas umum dari infeksi saluran napas,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa peningkatan kasus HMPV di China lebih disebabkan oleh pola musiman yang biasa terjadi di musim dingin, bukan fenomena luar biasa.
Untuk menghadapi situasi ini, Prof. Tjandra mengingatkan masyarakat agar selalu mencari informasi dari sumber yang kredibel.
“Kita perlu tetap waspada, tetapi jangan mudah percaya pada kabar yang tidak terverifikasi. Pastikan kita mendapatkan informasi dari otoritas resmi seperti WHO atau pemerintah setempat,” pesannya. (DDY)