Ini Dia Trend Google Search, YouTube dan Google Play Selama Tahun 2024!

ITK • Friday, 13 Dec 2024 - 12:22 WIB
Para trendsetter di Top Trending Google, YouTube dan Google Play selama tahun 2024

Jakarta - Seiring berakhirnya tahun 2024, Google melihat kembali momen, orang, dan tren yang menarik perhatian Indonesia di Google Search, YouTube, dan Google Play. Masyarakat Indonesia semakin aktif di dunia digital, dan minat mereka mengungkap perpaduan menarik antara pengaruh lokal dan global. Mulai dari olahraga dan pemilu, drama Korea dan hits dalam negeri, hingga aplikasi yang membawa nostalgia dan menjadi kebutuhan sehari-hari. Dan berikut adalah tren di Google Search, YouTube, Google Play yang dapat memberikan gambaran akan definisikan tahun ini.

 

Year in Search 2024: Indonesia yang penuh rasa ingin tahu, cinta lokal, dan terlibat

Satu hal yang pasti: orang Indonesia itu penuh rasa penasaran! Didorong oleh rasa haus akan pengetahuan, di tahun 2024 ini, orang Indonesia berbondong-bondong ke Google Search dengan segudang pertanyaan, mencari jawaban atas segala hal, mulai dari kesehatan pribadi hingga tren viral dan peristiwa nasional. Rasa ingin tahu ini juga meluas ke isu-isu terkini dan sosial, terbukti dari pencarian seperti "Apa itu golput?", “Apa itu kepanjangan IKN?” dan "Mengapa Indonesia lolos piala asia?". Keinginan untuk memahami dunia di sekitar mereka juga memicu pencarian "Apa" yang mengeksplorasi tren pop culture seperti “labubu”, "mewing" dan arti "red flag", menggambarkan bangsa yang aktif berpartisipasi dalam lanskap budaya yang terus berkembang, selalu ingin belajar, tumbuh, dan terlibat dengan dunia di sekitar mereka.

Tahun ini, dunia hiburan Indonesia diwarnai antusiasme terhadap karya lokal. Pencarian untuk film, acara TV, dan musik menunjukkan pergeseran yang signifikan menuju konten lokal, yang semakin memperkuat preferensi terhadap cerita dan suara dalam negeri. Hal ini terlihat jelas dalam kategori "Lirik Lagu" dan "Film/Serial", di mana tujuh dari sepuluh pencarian teratas menampilkan lagu dan judul Indonesia.

Kecintaan masyarakat Indonesia terhadap cerita lokal semakin nyata terlihat dari meningkatnya popularitas film-film yang menyentuh hati seperti "Agak Laen", "Jatuh Cinta Seperti di Film", dan "Paylater". Film-film ini terasa dekat di hati penonton Indonesia karena berhasil menampilkan humor dan pengalaman sehari-hari yang khas. Tren ini juga tampak dalam dunia musik. Mahalini terus meraih kesuksesan, dibuktikan dengan banyaknya penggemar yang mencari lirik lagu "mati-matian" setelah "Sial" trending tahun lalu. Hal ini menunjukkan dukungan yang kuat terhadap musisi lokal. Tidak hanya Mahalini, Bernadya juga memiliki dua lagu yang trending tahun ini – "Satu Bulan" dan "Untungnya Bumi Masih Berputar". Ini menunjukkan bagaimana musik lokal yang menyuarakan pengalaman dan perasaan mampu menciptakan koneksi yang kuat dengan para pendengarnya dan masyarakat Indonesia secara luas.

Pada akhirnya, Year in Search dari Google bukan sekadar daftar pencarian yang trending. Ini adalah cerminan dari rasa ingin tahu, minat, dan perhatian masyarakat Indonesia sepanjang tahun ini. Hasil Year in Search tahun ini menjadi bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang aktif, peduli, dan bersemangat menjelajahi dunia melalui kekuatan pencarian. Selami lebih dalam tren pencarian Indonesia tahun 2024 di Year in Search untuk mengungkap lebih banyak wawasan dan menjelajahi tren global.

Kucing Bobby Kertanegara menjadi salah satu Top Trending Searches Google 2024 untuk kategori "Siapa"

 

 

Setahun di YouTube: Kebanggaan Lokal dengan Jangkauan Global

Dalam budaya pop global, konten kreator Indonesia dipandang sebagai representasi negara dan komunitas mereka. Oleh karena itu, meskipun kerap mengikuti tren global, para kreator tetap berkomitmen untuk berkarya dengan gaya mereka sendiri. Hal ini membuat budaya online Indonesia di YouTube didominasi oleh kreator yang mengedepankan keunikan dan lokalitas, sekaligus menarik perhatian audiens global berkat identitas lokal yang otentik.

Tahun ini, kami melihat bahwa dalam mempromosikan kultur lokal ke audiens yang lebih luas, atlet Indonesia menjadi salah satu penggerak utama. Setelah mencuri perhatian di ajang internasional seperti Piala Asia AFC 2024 dan Kualifikasi Asia Piala Dunia 2026, Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas Indonesia) menjadi topik hangat di YouTube. Para kreator mengunggah berbagai konten seputar perjalanan Timnas, mulai dari cuplikan pertandingan dan analisis strategi, hingga momen candid para pemain dan pelatih. Konten yang dihasilkan oleh fans lokal maupun global ini turut menyemarakkan dukungan terhadap tim. Faktanya, secara global, kanal resmi Timnas Indonesia mendapatkan lebih dari 250 ribu subscribers dan lebih dari 20 juta penayangan pada tahun 2024. Tak hanya sepak bola, jenis konten olahraga juga semakin beragam. Salah satunya adalah Red Sparks, tim bola voli asal Korea Selatan, yang berhasil menarik perhatian di Indonesia berkat kehadiran pemain Indonesia, Megawati, menjembatani kedua budaya sekaligus mempererat hubungan antar penggemar.

Serupa dengan tren yang kita lihat di Year in Search tahun ini, nuansa lokal adalah kunci. Kreator Indonesia berhasil membuat konten yang berbeda dengan mengadaptasi format global seperti kompetisi edutainment Clash of Champions (yang terinspirasi dari acara serupa di Korea Selatan, ‘University War’) atau laga tinju live streaming BYON Combat (yang mirip dengan laga dari kreator Barat seperti Jake Paul dan KSI) menunjukkan bahwa para kreator Indonesia mampu menyerap format dan tren luar negeri, untuk menciptakan momen budaya pop dengan kearifan lokal. 

Kecintaan terhadap musik dan suara lokal dalam video pendek juga marak di YouTube. Para DJ di Indonesia kerap meremix berbagai musik dan mencapai kepopuleran melalui platform video pendek. “My Lecon”, lagu boyband asal Korea Selatan JTL dari awal tahun 2000-an, mendadak kembali viral ketika DJ lokal Prengky Gantay merilis versi Jedag Jedug. Remix ini menjadi latar belakang lagu yang mengiringi tim pemandu sorak bisbol KIA Tigers di Korea Selatan, dengan ekspresi datar serta koreografinya yang sederhana yang justru menarik perhatian kreator lokal maupun global. Tren ini menjadi sangat viral, bahkan menarik perhatian bintang pop Amerika, Olivia Rodrigo, dan komentator musik Australia, Derrick Gee. Ini merupakan contoh perpaduan budaya yang bersumber dari konten digital serta menunjukkan pengaruh lintas budaya yang kuat dalam membentuk budaya pop, baik di tingkat lokal maupun global.

Faktanya, delapan dari sepuluh lagu teratas dalam daftar EOY (End of Year) kami memiliki keterkaitan dengan tren Shorts, mendorong kreativitas dan menghidupkan kembali konten nostalgia. Genre musik Indonesia seperti Dangdut berevolusi berkat tren Shorts, termasuk tren dance dan transisi makeup. Shorts juga menjadi fondasi bagi subgenre musik yang kian berkembang seperti Dangdut Koplo dan Jedag Jedug, yang berfokus pada konten remix. Lagu-lagu seperti “Terek Bale” dan “Sekecewa Itu” bahkan lebih populer dengan nuansa baru lewat remix DJ. Hal ini pun menimbulkan perhatian global.

Pada akhirnya, semangat kebanggaan lokal Indonesia semakin nyata dan terasa. Dari perayaan prestasi olahraga, atau sekadar menikmati konten lokal yang relevan, hingga berdansa diiringi genre musik lokal, lanskap konten Indonesia dibentuk dari harapan untuk memiliki representasi di dalam dan luar negeri. Inilah momen yang tepat untuk merangkum semangat keanekaragaman daerah sekaligus menunjukkan bagaimana roda budaya berputar di dunia online Indonesia. Tren Indonesia di YouTube tahun 2024 selengkapnya di sini. (*ITK/R)